Kamis, 5 Maret 2015

Umat Hindu Jambi Sucikan Buana Alit dan Buana Agung

Sabtu, 5 Maret 2011 17:59 WIB

TRIBUN-MEDAN.com - SEHARI sebelum perayaan Tahun Baru Saka 1933 atau nyepi, umat Hindu di Jambi mengadakan upacara Tawur Agung yang disebut juga Pecaruan.

Budiono, Pembimbing Masyarakat Hindu Jambi saat ditemui Tribun di Pura Giri Indra Lokha, Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi mengatakan perayaan Tawur Agung atau Pecaruan dilakukan untuk menyucikan Buana Alit, alam dalam diri manusia, dan Buana Agung, yaitu alam semesta beserta isinya.

Pukul setengah duabelas siang tetabuhan gamelan berirama khas berkumandang di luar gerbang Pura Giri Indra Lokha, Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Kota Jambi, menandakan dimulainya perayaan Tawur Agung atau Upacara Pecaruan sebelum Hari Raya Nyepi, Sabtu (5/3/2011).

Belasan orang memainkan perangkat gamelan dengan nada-nada ritmis mengalahkan bisingnya suara iring-iringan truk yang tak henti melewati Jalan Lingkar Selatan.

Seorang pemuka agama mulai membaca doa, dibunyikannya lonceng di tangan, di hadapannya diletakkan sesajen. Setelah didoakan, sesajen dibawa masuk ke dalam pura.

Upacara ini disebut pula Bhutayadnya, yang dilakukan sehari sebelum menyepi di hari Chaitra (kesanga), tujuannya untuk membina hubungan harmonis manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sesama manusia, mahluk ciptaannya dan lingkungan.

Menurut Gusti Ketut Mega, seorang pemangku adat atau Pinandhita Hindu, Tawur Agung atau Tawur Kesanga bertujuan sebagai persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi untuk kesejahteraan dunia. "Jadi kita mohon restu kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya membersihkan umat atau manusia," katanya.

Halaman123
Sumber: Tribunnews
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas