Ramli: Indonesia Masih Sangat Primitif
Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli yang menyampaikan materi perkuliahan umum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli yang menyampaikan materi perkuliahan umum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengaku banyak kesalahan mendasar yang dilakukan pemerintah di lingkup universitas. Di Amerika, pemerintah di sana bisa dengan suka rela memberikan ribuan hektar tanah untuk para universitas. Tetapi sayang, Indonesia katanya masih sangat primitif.
Jika universitas memiliki penghasilan, ia mengaku pemerintah langsung melirik dan membebankan pajak 30 persen dari penghasilan universitas. Padahal itu tidak harus dilakukan, sebab menurut analisisnya universitas tidak harus dikenakan pajak dan biarkan universitas mengembangkan kualitas pembangunan melalui dana tersebut.
"Harusnya pajak dibebaskan tetapi kita terlaly promitif. Padahal itu menjadi satu acuan bagaimana universitas yang mencetak kader-kader akademik untuk bersaing di dunia internasional. Tapi kalau itu yang kita harapkan kepada SBY janganlah, karena itu tidak mungkin," ujarnya, Sabtu (9/7).
Acara yang dihadiri juga oleh Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Daulai, Rizal terlihat blak-blakan bercerita bagaimana ketertinggalan ekonomi Indonesia. Jika dilakukan survei pada masyarakat terkait kemajuan ekonomi ia memastikan terdapat banyak versi. Kalau versi pemerintah umumnya mereka beranggapan masyarakat sudah bagus dan berjalan di track yang benar. Berbeda saat pertanyaan dilontarkan pada masyarakat, yang dominan mengaku lebih enak hidup di zaman Suharto.
Itu katanya tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada masyarakat. Warga Indonesia umum membedakan sistem perekonomian melalui perbandingan historis. Pada zaman Suharto ia membenarkan harga kebutuhan sangat murah, lowongan pekerjaan banyak, tetapi kalau berbicara HAM dan korupsi itu juga masuk pada ke khasan zaman Suharto. Sebagai mahasiswa dan kaun terdidik, harusnya berfikiran tidak seperti warga awam. Sebagai masyarakat terdidik, perbandingan ekonomi yarusnya tidak hanya didasari atas perbandingan historis saja, melainkan juga perbandingan komperatif.
"50 tahun yang lalu negara di Asia sama miskin semuanya. Tetapi dalam waktu 50 tahun sekarang Indonesia sudah jauh tertinggal dari gaya pemikiran. Malaysia sudah meninggalkan kita empat kali lipat dari sistem kesejahteraan dan pemikiran, Korea 35 kali, China apalagi yang saat ini menjadi penguasa sektor ekonomi, politik dan militer di Asia," ujarnya.(Irf/tribun-medan.com)