#Fiksifriksi (Wonderbra)

Menjual yang Sulit Dijual

Satu kata langsung menyeruak saat mendengar musik yang dimainkan Wonderbra: nekat

Menjual yang Sulit Dijual
Internet
Wonderbra
Laporan Wartawan Tribun Medan/Agus Khaidir

TRIBUN-MEDAN.com - Satu kata langsung menyeruak saat mendengar musik yang dimainkan Wonderbra: nekat. Kata yang kerap disematkan untuk menandai penyanyi (dan terutama sekali) band yang bersikeras menempuh jalan idealis.

Wonderbra jelas memukau. Tapi di antara serbuan musik-musik kodian, musik-musik kerupuk jiblakan, maka perpaduan blues rock dan yang mereka mainkan (personel Wonderbra lebih suka menyebut musik merek "psychedelic") akan seketika kedengaran aneh.

Jelas pula, ini musik yang sulit dijual. Apalagi sejauh ini Wonderbra belum mau sedikitpun melakukan kompromi pasar. Mereka bergeming meski diiming-imingi kesempatan merilis album. Alhasil, #Fiksifriksi, album perdana mereka, harus direkam lewat lebel indie.

Namun hasilnya memang terbilang hebat. Kekuatan vokal Thera menjadikan beberapa lagu dalam album ini naik level menjadi istimewa. Suaranya yang melengking dan berubah serak saat mencapai nada tinggi tertentu, mengingatkan pada superstar rocker perempuan Janis Joplin. Sekilas, saat ia memaksakan untuk menekan suara, terdengar  agak mirip Euis Darliah pula. Bedanya Thera lebih mampu menguasai kembangan-kembangan nada suaranya hingga nyaris tak pernah melengking di luar kendali.

Dari sisi tematik lagu juga boleh dikata "mengerikan". Tiada cerita cinta cengeng di sini. Tiada roman picisan dengan tokoh lelaki atau perempuan yang menangis sesengukan mendayu-dayu lantaran hasrat kasih yang tak sampai.

Cermatilah lagu berjudul One Month in Bed. Ini lagu tentang seorang yang sudah terbaring sakit selama satu bulan. Tapi tidak ada nada sedih. Yang kedengaran justru sebaliknya, keriangan, namun dalam bentuk tanpa tawa. Tetap ada kesedihan di sana. Namun kesedihan yang tanpa tangis.

Wonderbra memang tak sama sekali lepas dari cinta. Tapi sekali lagi, cinta mereka bukan cinta yang dijual seribu tiga. Dalam Tak Ada Cinta di Lemari, gejolak cinta yang kadang penuh ceria kadang dirasuk duka, digambarkan bukan lewat kecengengan syair, melainkan tempo yang turun naik, kadang cepat kadang berubah lambat, hingga secara keseluruhan menghasilkan sebuah bangun dinamika hidup yang lebih realistis.(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Ismail
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help