Ricuh Penjualan Perdana BlackBerry
Presdir RIM Indonesia Dicekal
Presiden Direktur Research In Motion (RIM) Indonesia, Andy Cobham, ditetapkan sebagai tersangka
Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan surat pencekalan itu ke pihak Imigrasi. Selain Andy, surat pencekalan juga diperuntukkan bagi Terry Burki selaku konsultan keamanan yang ditunjuk RIM. "Iya, keduanya sudah dicekal," ungkap Imam, Senin (5/12/2011), dalam pesan singkat yang diterima wartawan saat dimintakan konfirmasinya soal pencekalan itu.
Surat cekal dikeluarkan sejak keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Imam menjelaskan, meski kedua tersangka itu tidak ditahan, tetapi demi kepentingan penyidikan lebih lanjut, pencekalan itu perlu dilakukan. "Ini suatu bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan mereka," papar Imam.
Seperti diberitakan, polisi telah menetapkan empat orang tersangka dalam kasus ricuhnya promo BlackBerry di Pacific Place pada Jumat (25/11/2011) lalu. Empat orang tersangka itu yakni Andy Cobham selaku Presiden Direktur RIM Indonesia, Terry Burki selaku konsultan keamanan yang ditunjuk RIM, Edwin dari panitia acara, dan Markus selaku manajer di Pacific Place. Semua tersangka dikenakan Pasal 360 KUHP tentang Kelalaian yang Menyebabkan Orang Lain Terluka.
"Tidak ada yang ditahan, karena para tersangka ini ancaman hukumannya di bawah lima tahun. Hanya dikenakan wajib lapor," pungkas Imam.
Peristiwa ini bermula saat pihak Research In Motion (RIM) mengadakan promo harga khusus pada acara peluncuran produk BlackBerry Bold 9790 atau Bellagio terbaru pada Jumat (25/11/2011) lalu di Pacific Place. Harga BlackBerry Bellagio yang standarnya mencapai Rp 4,6 juta didiskon sampai hanya Rp 2,3 juta per unitnya.
Hal ini membuat ribuan anggota masyarakat tergiur dan mendatangi acara promo itu. Sayangnya, panitia tidak menyangka masyarakat yang hadir rupanya membeludak, bahkan sudah melebihi jumlah produk yang dijual. Alhasil, masyarakat yang sudah mengantre berjam-jam berang dan memaksa masuk ke dalam antrean. Aksi dorong-dorongan tak bisa dihindarkan. Panitia dan polisi kewalahan hingga sekitar 90 pembeli pingsan di tempat. (*)