• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Tribun Medan

Ekspor Holtikultura Anjlok

Jumat, 9 Desember 2011 10:32 WIB
Laporan wartawan Tribun Medan/Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN -
Kondisi melonjaknya impor buah dan holtikultura lainnya yang masuk ke Sumut diperparah lagi dengan makin anjloknya nilai dan volume ekspor produksi petani lokal ke luar negeri. Data Surat Keterangan Asal (SKA) produk ekspor Disperindag Sumut menunjukkan angka penurunan yang cukup drastis di pada komoditas buah dan sayur.

Kalau pada Januari – November 2010, nilai ekspor holtikultura mencapai 22,9 juta dolar AS, maka pada periode yang sama tahun ini angkanya hanya mencapai 13,95 juta dolar AS. Volume ekspornya pun melandai dari angka 57,38 ribu ton menjadi 25,44 ribu ton.

“Ini jelas penurunan yang gawat. Saya berbicara dengan eksportir dan keluhan mereka hampir sama. Sudah cukup banyak produk yang menyaingi dari China . Seperti yang katakan tadi, kita masih kalah,” kata Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia.

Bahkan kalau pada tahun lalu Sumut masih mengekspor holtikultura ke Taiwan, Thailand, Malaysia, Korea dan Belanda, maka pada tahun ini negara tujuan ekspor Sumut berkurang, yang tersisa hanya Malaysia ditambah dengan China. Untuk ekspor ke China pun terindikasi kalau holtikura kita malah diekspor lagi ke negara lain.

“Komoditas holtikultura tidak banyak. Sifatnya pun masih tradisional dan skalanya kecil,” imbuhnya.

Kondisi ekspor holtikultura pun dikhawatirkan semakin memburuk karena sepanjang tahun ini, produk kol atau kubis, harganya masih diatur oleh mafia kartel yang ada di Singapura. Keberadaan mafia kartel yang memiliki fasilitas modern, seperti cold storage yang besar serta jaringan distribusi yang luas, membuat petani kol Sumut tak berdaya untuk menentukan berapa harga hasil jerih payah mereka.

“Jadi harganya ditentukan setelah produknya laku di pasaran. Berapa kata mereka (pelaku kartel) ya segitu lah yang eksportir terima,” keluhnya. Lagi-lagi, alasannya adalah kontinuitas petani kol, terutama di Kabupaten Karo, belum terjaga dengan baik. Akhirnya, pelaku kartel tersebut melakukan switch dengan China yang ekspor kubisnya sudah membaik pasca iklim yang ekstrim tahun lalu.

Alih-alih memberikan solusi, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan malah menegaskan kalau posisi tawar komoditas petani lokal lah yang belum menjamin kesinambungan suplai ke Singapura. Ketidakmampuan petani lokal menjaga volume pasokan ini menurutnya membuat pihak Singapura tidak lagi memprioritaskan produksi petani Sumut.

“Berarti posisi tawar kita yang belum menjamin. Tapi bagaimana pun itu tetap jadi perhatian kita. Akan kita upayakan bagaimana agar pasca panen, kualitas yang disyaratkan Singapura bisa kita penuhi. Mungkin dengan membangun cold storage sendiri di daerah yang berdekatan dengan Singapura adalah ide yang bagus,” pungkasnya. (ers/tribun-medan.com)
Penulis: Eris Estrada
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
73551 articles 33 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas