Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Medan

Apa kata Mereka Tentang TD Pardede

Sabtu, 11 Februari 2012 00:09 WIB

Laporan wartawan Tribun Medan/ Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sebagai seorang tokoh nasional yang membangun karir dari awal, sosok Tumpal Dorianus Pardede mungkin masih awam di telinga generasi yang lahir di era 90-an. Tapi tentu tidak bagi mereka yang hidup di era sebelumnya. Sosok ini begitu lekat khususnya di masyarakat Sumatera Utara. Bahkan pria yang akrab dikenal dengan TD Pardede ini pun sempat menjabat sebagai Menteri Berdikari di era Presiden RI Soekarno. Apalagi kalau bukan karena kepiawaiannya membangun ekonomi berbasis kerakyatan yang memang sangat dibutuhkan negara Indonesia waktu itu.

Menariknya, dia bukan lahir dari keluarga yang kaya raya. Hanya menikmati pendidikan hingga kelas 5  SD tak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya. Meniti usaha mulai dari sebagai penderus karet (nderes) di perkebunan, kesabaran dan ketekunan yang dimilikinya membawanya ke era kesuksesan. Mulai dari bisnis hotel, balai pertemuan, pabrik tekstil, klub sepakbola, sekolah hingga universitas serta beberapa bisnis lainnya. Dan semuanya terus tumbuh hingga saat ini. Tidak hanya berorientasi bisnis, namun sisi sosial juga tidak pernah ia kesampingkan. Itulah yang membuatnya begitu dicintai ribuan karyawannya yang kerap menyebutnya “Pak Katua“.

Bagaimana sebenarnya sosok TD Pardede di mata mereka yang dekat dengannya?

DR Indri Pardede Aria, Putri Bungsu
Jujur, saya tidak begitu mengenal sosok ayah.  Justru banyak cerita tentang ayah yang saya dapatkan dari karyawan-karyawan yang begitu mencintainya. Cerita itulah yang tidak saya dapatkan dari kakak-kakak dan abang-abang saya, yang mungkin juga sama seperti saya. Saya begitu terharu mendengar cerita mereka. Saya bahkan rela ngobrol sampai dini hari hanya untuk mendengar kisah-kisah tentang ayah. Dan saya sadar sekarang, harta karun yang ditinggalkan ayah buat putra-putrinya adalah semangat, karakter dan filosofi yang begitu berharga. Begitu bersemangat rasanya ketika mendengar itu. Dan saya ingin agar semua cerita itu dapat menjadi inspirasi banyak orang, selain kami keluarganya. Terlalu sayang untuk disimpan. Dan saya yakin banyak orang diluar sana yang tahu lebih banyak tentang ayah. Bukanlah sebuah hal mustahil karena terkadang justru orang terdekatlah yang paling tidak kenal dan paling tidak tahu. Tapi di dalam darah dan dagingku ini ada dirimu, ayah. Biar bagaimanapun juga, dirimu adalah aku.

Mariska Lubis, penulis buku
Sangat malu rasanya, sebagai orang batak saya justru tidak pernah menginjakkan kaki di Sumatera Utara. Bahkan sekalipun saya tidak pernah menulis tentang provinsi ini. Tapi ketika dipertemukan dengan kak Indri Pardede Aria, rasanya saya begitu bersemangat. Bertanya dan mencaritahu tentang apa dan siapa seorang TD Pardede. Terharu namun rasa kagum terus terasa dan hingga kini tidak bisa dihentikan. Saya justru menyesal tidak mengenal beliau semasa hidup. Apa yang dikatakan oleh para karyawan,sahabat dan juga orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalnya langsung juga membuat saya iri, karena tak pernah bertemu langsung.

Menurut saya TD Pardede bagaikan matahari yang selalu menjadikan gelap itu terang. Seorang manusia modern yang berpikiran maju kedepan dan selalu menjadi yang pertama. Seorang manusia sejati yang tidak pernah mengabaikan hati nuraninya di dalam bertindak dan berprilaku. Tidaklah heran bila dikatakan bahwa beliau tidak dapat tergantikan. Dan jujur, kita merindukan sosok seperti beliau saat ini. Semoga semangat hidupnya mampu menginspirasi kita semua.

Jusuf Kalla, mantan Wapres RI
Saya tidak kenal beliau langsung, karena saya masih kecil saat TD Pardede sudah menjadi orang yang sukses. Namun siapa yang tidak tahu beliau? Seorang pengusaha hebat yang memiliki keberanian, kepeloporan dan visi jauh ke depan. Kita rindu tokoh seperti ini, pengusaha yang tidak hanya mengekor. Meski pada awalnya sering dikatakan gila. Dengan pendidikan yang sederhana tapi beliau mampu mencapai kemajuan luar biasa. Dia berbicara bertindak jauh kedepan, itulah yang saya sebut visioner. Membuat pabrik tekstil saat ini biasa, tapi kalau pada tahun 50an, itu  sesuatu yang wah. Hotel? Mendirikan bank? Pada tahun itu? Hanya pemikir inovatif yang membuatnya. Itu yang selalu ingin kita contoh. Sekarang banyak yang menjadi penggembira dan pengekor. Tidak pernah jadi pemenang. Beliau tidak pernah mengekor, selalu di depan. Karya-karyanya begitu orisinil. Saya memberikan semangat untuk menghargai ketauladanan beliau. Kepada putra dan putrinya, masih ada waktu membangkitkan kembali bisnis Pak Katua. Banyak aset yang bisa dikelola dengan hebat. Ini Medan Bung !! Ini Pardede Bung !!

Gatot Pudjonugroho, Plt Gubsu
Secara umum beliau adalah sosok yang sangat kita kagumi. Kalau dari pengenalan akan TD Pardede, saya yakin saya masih sangat jauh dibandingkan orang lain yang jauh lebih mengenalnya. Tapi lahirnya buku ini harus kita syukuri karena memberikan kita kesempatan untuk mengenal siapa sebenarnya beliau. Makanya saya katakana tidak ada arti kalau buku ini tidak dibaca. Napak tilasnya harus dapat menginspirasi kita. Jiwa-jiwa entrepreneur seperti TD Pardede sangat kita butuhkan saat ini. Untuk membangun Sumatera Utara dan juga Indonesia. Generasi muda harus mampu mengilhami setiap perbuatan dan semangat hidupnya. Saya sangat berharap kedepannya akan banyak TD Pardede baru yang lahir.

Dewi Motik, Ketua Kowani
Aku masih ingat sewaktu berumur sebelas tahu, aku dan keluarga diajak ayah pergi ke Medan untuk berlibur. Ayah membawa kami semua berkenalan dengan keluarga TD Pardede, dan sejak itulah aku benar-benar kagum dengan beliau. Bayangkan, waktu itu aku masih kecil, tetapi beliau mau mengajak aku bicara. Kami pun bicara panjang lebar seperti layaknya perempuan dengan ayahnya. Beliau sangat sederhana dan membumi. Kesederhanaannya inilah yang membuat beliau menjadi luar biasa dan pantas mendapat sebutan Pak Katua, yang sangat dihormati. Beliau benar-benar seorang ayah. Betapa besar cinta beliau kepada istri dan anak-anaknya. Yang paling membuat aku kagum adalah Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipegang teguh dan dijalankannya. Beliau adalah seorang ayah yang memiliki cinta untuk istri, anak masyarakat, bangsa, negara dan seluruh umat manusia (ers/tribun-medan.com)

Penulis: Eris Estrada
Editor: Wiwi Deriana
Sumber: Tribun Medan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas