MoU Museum Batak dengan Museum Belanda
Museum Batak di TB Silalahi Center di Balige telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU)
TRIBUN-MEDAN.com, PEMATANGSIANTAR - Museum Batak di TB Silalahi Center di Balige telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk kerjasama dengan Museum of Ethnilogy di Amsterdam. Penandatanganan yang dilakukan 14 April 2012 di Museum Batak tersebut merupakan kerjasama untuk kepentingan study kebudayaan.
Seperti disampaikan TB Silalahi kepada Tribun Medan via pesan singkat, bahwa MoU yang dilakukan dengan John Sijmons Bergen sebagai direktur umum Museum of Ethnilogy tersebut bukan untuk pengembalian beberapa artefak sejarah suku di Sumatera Utara. "Mula-mula dipinjamkan, itupun berupa laklak yang berisi sejarah dan lain-lain. Untuk dipelajari ahli-ahli dari USU," katanya kepada www.tribun-medan.com, Senin (30/4/2012).
Juga disampaikan, bahwa pengembalian artefak tersebut tidak semudah yang difikirkan. Karena pihak Belanda juga tidak semudah yang dipikirkan selama ini. Pengembalian tersebut, katanya hanya masih sebatas wacana.
"Masih harus berjuang dan harus ada jaminan Pemenerintah RI untuk menyakinkan merekan" katanya. Kembali ditegaskan bahwa MoU yang dilakukan baru sebatas kerjasama untuk kepentingan study yang akan dilakukan oleh ahli sejarah dan budaya dari USU atau dari instansi lain.
"TB Silalahi Center tidak bisa berjalan sendiri, tapi mengajak lembaga-lembaga masyarakat yang berkepentingan," kata TB Silalahi. Dan kalau pun artefak-artefak itu dikembalikan, akan menjadi milik negara.
"Akan menjadi koleksi dan milik Museum Nasional. Tidak bisa menjadi milik museum daerah," katanya.
Sementara itu, Djomen Purba pengurus Museum Simalungun di Pematangsiantar mengharapkan, jika kembalinya artefak Simalungun yang saat ini berada di Belanda agar dikembalikan ke daerah asal. Seperti halnya, patung Silapalapa dan Lak-lak akasara Simalungun. "Janganlah malah ke Museum Batak yang ada di Balige, karena itu sebenarnya adalah milik Simalungun," kata Djomen ditemui terpisah.
Selama ini, usaha untuk pengembalian artefak tersebut tetap mereka lakukan dengan menyurati museum di Belanda.
Dijelaskan Djomen, secara ringkas, Silapalapa salah satu patung kuno Simalungun yang berasal dari kampung Hutabayu Marubun/kecamatan Tanah Jawa, tahun 1938 dibawa ke Pematangsiantar dan terus ke eropa. Sekarang patung tersebut ikut mewakili seni budaya kuno Indonesia di forum Internasional dalam Rijksmuseum di Amsterdam. "Silapalapa ini adalah palapanya Simalungun," katanya. (afr/www.tribun-medan.com)