Sejam Digoyang Ombak Danau Toba

Cuaca siang itu cukup cerah meski di tengah Danau Toba tampak awan hitam menggelantung. Duapuluhan penumpang pun

Tayang:
Laporan wartawan Tribun Medan/ Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Cuaca siang itu cukup cerah meski di tengah Danau Toba tampak awan hitam menggelantung. Duapuluhan penumpang pun bergegas menaiki kapal feri mungil sepanjang  10 meter tersebut. Duduk di dek atas sembari mencoba menikmati perjalanan menuju Pulau Samosir.

Tapi, baru puluhan meter melaju, gelombang ombak yang dibawa angin kencang mulai menyerbu kapal. Penumpang berpegangan di kursi masing-masing. Sayangnya, kursi besi di kapal itu ternyata tidak menempel ke badan kapal. Alhasil, kursi pun bergeser ke kanan dan ke kiri mengikuti liukan kapal yang terombang-ambing. Sebagian penumpang mulai berteriak.

Panik. Sebagian penumpang lainnya bahkan harus mencari pegangan ke tiang kapal dan besi di atap penyangga kapal berwarna putih itu. Apalagi sebagian besar penumpang baru kali pertama datang ke Danau Toba. Siapapun takkan menyangka jika ada ombak sebesar itu di sebuah danau. Lebih kurang sejam kapal sempat terombang-ambing digoyang riak ombak.

Nahkoda pun terpaksa mengurangi kecepatan kapal agar posisinya tidak terlalu oleng. Menjelang dermaga Tomok, Pulau Samosir, ombak mereda. Tinggal lah sapuan gerimis yang menyapu muka.

Sebelum tiba di Samosir, penumpang yang berasal dari kru Tribunnews, Tribun Medan dan beberapa tamu dari perusahaan biro iklan di Jakarta, sempat dihibur oleh nyanyian riuh tiga bocah kecil di atas kapal. Membawakan lagu Sinanggar Tulo, mereka tampak kompak dan ceria. Mungkin ingin menghibur para penumpang agar tak lagi panik.

Ketika kaki menapak di daratan, beberapa penumpang mengaku masih merasa mual dan pusing. Mungkin akibat terombang-ambing selama menyeberang. Para pedagang yang berjejer di kiri dan kanan jalan menyambut ramah kedatangan kami sambil sesekali menawarkan dagangannya.

Kami langsung berbelok ke kanan untuk menyaksikan pertunjukan Sigalegale, boneka menari khas Batak. Pemandu lokal dengan sabar menjelaskan kepada pengunjung tentang asal usul boneka Sigalegale. Limabelas menit lamanya ia bercerita tentang alkisah boneka yang dibuat menyerupai putra Raja Batak yang hilang itu. Hingga akhirnya ia mengajak semua pengunjung menggunakan ulos dan ikut menari bersama diiringi tarian tradisional yang mengiringi tarian boneka Sigalegale. Terbayar sudah rasa panik dan cemas diatas kapal tadi. Ketika menari, hanya gelak tawa dan gerakan tubuh yang terpadu kompak dalam acara "Manortor" itu.

Senyum pun semakin mengurai ketika Pimpinan Perusahaan Tribun Medan, Fauzan Marasabessy menghadiahi ulos satu persatu kepada para tamu. Sambil mengucapkan "Horas", ia mengalungkan ulos ke pundak mereka.

Acara mengenal sejarah Samosir pun berlanjut ke makam raja Samosir yang terletak di ujung jalan. Disini mereka juga dikenalkan dengan sejarah raja Samosir yang makamnya dibangun sedemikian rupa agar mudah dikunjungi tamu. Sesekali pertanyaan meluncur ke si pemandu. Dan ia pun dengan terperinci menjelaskan jawabannya kepada pengunjung.

Sore tiba, dan kami pun meninggalkan Pulau Samosir. Begitu menaiki kapal, kali ini kami yakin ombak tidak sekencang keberangkatan tadi. Kapal pun dibawa berkeliling danau dan berhenti sejenak di lokasi "Batu Gantung". Hingga akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Medan. Hari ini, kru Tribunnews dan perusahaan biro iklan akan mengunjungi kantor Tribun Medan dan melihat langsung bagaimana proses kerja awak Tribun Medan.

(ers/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved