Permintaan Seragam Sekolah Melonjak
Tribun Medan - Rabu, 13 Juni 2012 23:12 WIB
TRIBUN-MEDAN.com, SLAWI - Menjelang tahun ajaran baru, sejumlah perajin konveksi seragam sekolah di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kebanjiran pesanan. Salah satunya dialami para perajin di kompleks industri pakaian jadi Desa Tembok Lor, Kecamatan Adiwerna.
Permintaan seragam sekolah yang meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasa, membuat sejumlah perajin terpaksa lembur dan menambah jumlah karyawan.
Dukho (55), pemilik usaha konveksi di Desa Tembok Lor, Rabu (13/6/2012), mengatakan, permintaan seragam sekolah mulai meningkat sejak awal Mei lalu. Permintaan terbesar berasal dari Cirebon, Jawa Barat.
Pada hari-hari biasa, permintaan seragam sekolah hanya sekitar 10 kodi setiap pekan, namun saat ini mencapai 50 kodi per pekan. Selain seragam SD, SMP, dan SMA, Dukho juga memproduksi seragam pramuka.
Pemasaran seragam ke pasar di wilayah Cirebon, yaitu pasar Gebang, Mundu, dan Celancang. Sejumlah pedagang pakaian juga datang untuk mengambil pakaian seragam produksinya.
Menurut Dukho, karena peningkatan permintaan seragam sekolah selalu terjadi menjelang tahun ajaran baru, dia pun mempersiapkan produksi sejak lebih dari enam bulan lalu.
Karena permintaan terus mengalir, dia terpaksa bekerja lembur dengan menambah tenaga kerja dari tujuh orang menjadi 14 orang. "Biasanya kalau paginya mau kirim barang, kami juga lembur, bahkan kadang sampai pagi," ujarnya,
Etika (28), perajin seragam sekolah lainnya, mengatakan, seiring dengan meningkatnya permintaan, harga seragam sekolah naik sekitar Rp 3.000 per potong. Saat ini, rata-rata harga seragam bagian atas sekitar 25.000 hingga Rp 30.000 per potong, tergantung ukuran.
Apabila dijual dengan sistem kodian, harga per kodi sekitar Rp 450.000 hingga Rp 550.000 per kodi. Sementara harga seragam bagian bawah dijuals ekitar Rp 21.000 hingga Rp 25.000 per potong.
Menurut dia, selain karena meningkatnya permintaan, kenaikan harga seragam juga akibat naiknya harga bahan baku sekitar 20 persen. Sebagai contoh, harga kain jenis oxpot yang sebelumnya Rp 15.000 per meter, saat ini mencapai Rp 18.000 per meter.
Peningkatan permintaan juga dialami Muzanif (35), pemilik usaha konveksi seragam sekolah lainnya di Desa Tembok Lor. Saat ini mencapai 120 kodi setiap pekan, padahal biasanya hanya 10 kodi per pekan.
Selama ini, ia hanya memproduksi seragam bagian bawah, yang dijual di Tegal Gubug, Cirebon. "Permintaan mulai meningkat sejak awal Mei," katanya.
Mengantisipasi peningkatan permintaan tersebut, Muzanif, menyimpan produksi sejak September 2011. Meskipun demikian, semua stok produksinya sudah habis sejak awal Juni lalu. Saat ini ia kewalahan menghadapi permintaan yang masih terus mengalir. (*)
Permintaan seragam sekolah yang meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasa, membuat sejumlah perajin terpaksa lembur dan menambah jumlah karyawan.
Dukho (55), pemilik usaha konveksi di Desa Tembok Lor, Rabu (13/6/2012), mengatakan, permintaan seragam sekolah mulai meningkat sejak awal Mei lalu. Permintaan terbesar berasal dari Cirebon, Jawa Barat.
Pada hari-hari biasa, permintaan seragam sekolah hanya sekitar 10 kodi setiap pekan, namun saat ini mencapai 50 kodi per pekan. Selain seragam SD, SMP, dan SMA, Dukho juga memproduksi seragam pramuka.
Pemasaran seragam ke pasar di wilayah Cirebon, yaitu pasar Gebang, Mundu, dan Celancang. Sejumlah pedagang pakaian juga datang untuk mengambil pakaian seragam produksinya.
Menurut Dukho, karena peningkatan permintaan seragam sekolah selalu terjadi menjelang tahun ajaran baru, dia pun mempersiapkan produksi sejak lebih dari enam bulan lalu.
Karena permintaan terus mengalir, dia terpaksa bekerja lembur dengan menambah tenaga kerja dari tujuh orang menjadi 14 orang. "Biasanya kalau paginya mau kirim barang, kami juga lembur, bahkan kadang sampai pagi," ujarnya,
Etika (28), perajin seragam sekolah lainnya, mengatakan, seiring dengan meningkatnya permintaan, harga seragam sekolah naik sekitar Rp 3.000 per potong. Saat ini, rata-rata harga seragam bagian atas sekitar 25.000 hingga Rp 30.000 per potong, tergantung ukuran.
Apabila dijual dengan sistem kodian, harga per kodi sekitar Rp 450.000 hingga Rp 550.000 per kodi. Sementara harga seragam bagian bawah dijuals ekitar Rp 21.000 hingga Rp 25.000 per potong.
Menurut dia, selain karena meningkatnya permintaan, kenaikan harga seragam juga akibat naiknya harga bahan baku sekitar 20 persen. Sebagai contoh, harga kain jenis oxpot yang sebelumnya Rp 15.000 per meter, saat ini mencapai Rp 18.000 per meter.
Peningkatan permintaan juga dialami Muzanif (35), pemilik usaha konveksi seragam sekolah lainnya di Desa Tembok Lor. Saat ini mencapai 120 kodi setiap pekan, padahal biasanya hanya 10 kodi per pekan.
Selama ini, ia hanya memproduksi seragam bagian bawah, yang dijual di Tegal Gubug, Cirebon. "Permintaan mulai meningkat sejak awal Mei," katanya.
Mengantisipasi peningkatan permintaan tersebut, Muzanif, menyimpan produksi sejak September 2011. Meskipun demikian, semua stok produksinya sudah habis sejak awal Juni lalu. Saat ini ia kewalahan menghadapi permintaan yang masih terus mengalir. (*)
Editor : Sofyan Akbar
Sumber : Kompas.com
Bergabunglah dengan Tribun Medan Fans Page untuk update berita Medan da Sekitarnya.
Follow twitter kami di @tribunmedan untuk mengakses berita melalui twitter.
Download Tribun Medan Blackberry Launcher untuk memudahkan anda mengakses berita melalui perangkat blackberry.