A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Rp 60 Triliun Uang Rakyat Dipakai Bayar Utang Konglomerat - Tribun Medan
Sabtu, 29 November 2014
Tribun Medan

Rp 60 Triliun Uang Rakyat Dipakai Bayar Utang Konglomerat

Minggu, 24 Juni 2012 13:49 WIB

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Ekonomi Indonesia selama 14 tahun terakhir digerogoti oleh beban utang para konglomerat nakal. Uang rakyat yang dipakai untuk membayar bunga utang para konglomerat itu nilainya mencapai Rp 60 triliun per tahun.

Itu baru dari beban bunga utang eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang digemplang oleh para konglomerat hitam. Belum duit-duit yang dikorupsi oleh para pejabat. Sehingga dapat dipahami, kalau perekonomian dan kehidupan rakyat Indonesia tak kunjung membaik, meskipun hidup di negara yang kaya raya ini.

Menurut keterangan Direktur Eksekutif Indonesia Human Rights Committee of Social Justice (IHRCS) Gunawan, perekonomian Indonesia banyak digerogoti oleh beban ulah para konglomerat hitam di masa lalu.

Ia menyebutkan, selama beberapa tahun belakangan ini, Indonesia harus menanggung beban bunga hutang dari obligasi rekapitalisasi perbankan yang diterbitkan tahun 1998 sebesarBeban obligasi rekapitalisasi perbankan yang diterbitkan pada 1998 sebesar Rp 650 triliun.

Beban pembayaran bunga utang dari dana yang dipakai untuk BLBI itu nilainya mencapai Rp 60 triliun setiap tahunnya. Akibatnya, beban bunga utang itu kini telah berkembang bagaikan benalu yang secara perlahan menggerogoti pohon perekonomian Indonesia.

Untuk itu ia menyarankan dilakukan moratorium atau penghentian pembayaran bunga BLBI itu.


"Mengorbankan kepentingan rakyat demi konglomerat hitam (pengemplang BLBI) sama dengan negara gagal melindungi rakyat. Pemerintah tak berdaulat terhadap para konglomerat hitam itu, bahkan justru menjadi pelindung bagi mereka," katanya.

Menurut dia, negara tidak boleh takluk kepada para obligor BLBI dengan mengorbankan pajak rakyat. Apalagi, rakyat yang pajaknya diambil untuk menanggung beban obligasi rekap itu, tidak mendapatkan manfaat apapun dari utang BLBI.

"Sedangkan sektor-sektor strategis untuk rakyat seperti pertanian, tak mendapat dana yang cukup," kata dia.

Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribunnews

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas