Meynanur Mengigau Minta Tolong

Dua korban selamat kecelakaan maut minibus CV Taksi Kita Bersama

Tayang:
Editor: Muhammad Tazli
Meynanur Mengigau Minta Tolong - kecelakaan11.JPG
afr
kecelakaan maut minibus CV Taksi Kita Bersama (TKB) di Batu Gantung Parapat


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN
- Dua korban selamat kecelakaan maut minibus CV Taksi Kita Bersama (TKB) di Batu Gantung Parapat, Meynanur (10) dan keponakannya Sakti Awi (5) menjalani rawat inap di RS Haji Medan, sejak Jumat (29/6) sekitar pukul 05.00 WIB.

Perban masih melekat di kepala, pipi kanan, serta tangan kanan Meynanur. Sedangkan Sakti, terdengar memanggil-manggil ibunya, Dewi yang masih dalam perjalanan dari Mandailing ke RS Haji Medan.
Balutan perban terlihat di  kening serta tangan kanan Sakti. Sedangkan pen penyanggah patah tulang di paha kanannya.

"Emak, mamak, mamak,...," panggilnya merengek.

Perempuan yang mengaku makcik Sakti berusaha menenangkan. "Iya nak, sebentar lagi mamak datang, ya," tutur perempuan yang tak mau menyebut namanya saat ditemui Tribun, Jumat malam.

Tujuh penumpang minibus CV TKB tewas di kawasan Batu Gantung, Parapat, Kamis (28/6) subuh. Sopir minibus, Parlindungan Lubis juga tewas. Empat penumpang mengalami luka, dua di antaranya luka parah, yakni Meinanur dan Sakti Awi yang kini dirawat RS Haji Medan.

Seorang perempuan lain yang mengenakan pakaian oranye, mengatakan kakak serta abang Meynanur melakukan fardhu kifayah (proses pemakaman) jenazah ibunya Padianur (50) di Desa Pangautan, Natal, Madina, Jumat sore.

Semula, sepupu Maynanur yang tak mau menyebut nama itu berbisik-bisik memberikan keterangan kepada Tribun saat ditanya tentang orangtua Meynanur.

 "Meynanur belum tahu ibunya meninggal, walau ia tak nanya-nanya, karena memang ini anaknya pendiam. Kita juga dilarang dokter memberitahukannya," ujar perempuan yang mengaku sepupu Meynanur.

Suami sepupu Meynanur yang saat itu mengenakan baju dinas PNS menambahkan, keluarga Meynanur masih sibuk mengurus serta menguburkan jenazah Padianur, sehingga belum sempat menemani Meynanur di rumah sakit.

"Bapaknya sudah meninggal 10 tahun lalu. Mereka ada tujuh bersaudara, Meynanur anak paling kecil, sedangkan kakak Meynanur nomor dua adalah Dewi, ibu Sakti Awi," terang lelaki berambut gundul itu juga dengan nada berbisik.

Ia mengatakan setelah penguburan jenazah Padianur selesai Jumat sore, kemungkinan besar hari ini, kakak, abang serta orangtua Sakti Awi akan tiba di Medan.

Menurut sepupu Meynanur yang berbaju oranye itu, tujuan Sakti Awi dan Meynanur serta ditemani ibunya Padianur ke Medan, hendak ke rumah mereka di kawasan Marelan, Medan.

"Karena Meynanur liburan sekolah mereka mau liburan di Medan, ke rumah kami. Berangkatnya iya di ongkosi sama dua saudaranya orang Malaysia (keluarga pihak bapak Meynanur) yang sekalian ingin pulang ke Malaysia," katanya.

 "Orang itulah (Zaidun Bin Basir dan Zulkifli Bin Mohd Basir) yang mengongkosi orang ini," ujar wanita berbadan tambun itu mengaku tak begitu dekat dengan kedua saudaranya warga negara Malaysia itu.

Menurutnya, kedua saudara orangtua laki-laki Meynanur itu memang sering datang mengunjungi keluarganya itu ke Madina Natal.

Berita selengkapnya, baca Tribun Medan hari ini, Sabtu 30/6...

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved