A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Penuhi Jam Mengajar Guru Sertifkasi, Korbankan Siswa - Tribun Medan
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 1 Agustus 2014
Tribun Medan
Home » Sumut

Penuhi Jam Mengajar Guru Sertifkasi, Korbankan Siswa

Kamis, 20 September 2012 19:06 WIB
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Adol Frian Rumaijuk

TRIBUN-MEDAN.com, PEMATANGSIANTAR  -
Tuntutan bagi guru yang mendapat tunjangan sertifikasi profesi, menimbulkan berbagai permasalahan baru. Terutama dalam pemenuhan jam mengajar guru yang mewajibkan 24 jam setiap minggunya.

Contoh hal di SMP negeri 7 Kota Pematangsiantar yang membagi kelas belajar menjadi dua rombongan belajar. Pada umumnya, peserta rombongan belajar ada 40 sisiwa, kini dijadikan dua rombongan. Separuh masuk pagi dan separuh lagi masuk siang.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Pematangsiantar Armaya Siregar, Kamis (20/9/2012) mengatakan bahwa hal ini bisa terjadi dikarenakan program dari dinas pendidikan yang tidak jelas. Sebab, program 24 jam bagi guru bersertifikasi bukanlah hal baru.

“Kenapa harus mengorbankan siswa untuk memenuhi syarat sertifikasi itu,” ujarnya menyesalkan kebijakan tersebut.

Karena menurutnya, jika dilakukan pembagian rombongan belajar justru akan mengganggu konsentrasi anak dalam mengikuti pelajaran. Karena pada intinya yang dibutuhkan adalah peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya agar guru bisa bekerja dan menerima gaji.

Ia juga mengatakan, mubajirnya tenaga guru di Siantar diakibatkan tidak adanya data base guru di dinas pendidikan. Karena, jika data base lengkap, maka dalam mengajukan guru yang akan disertifikasi dengan jumlah jam belajar yang ada akan bisa disesuaikan tanpa kekurangan jam mengajar.

Bahkan, Armaya menilai daripada membagi rombongan belajar, lebih efisien dilakukan dengan menambah jam belajar siswa. Jam belajar siswa ditambah hingga dua jam belajar dalam sehari. Dengan catatan harus mampu menyajikan dan mengimbangi kualitas belajar di bimbingan belajar.

“Pada hakekatnya saat ini, yang meluluskan siswa adalah lembaga bimbingan belajar,” ujarnya. Karena mengingat kondisi saat ini, lembaga pendidikan formal tidak diakui secara seutuhnay lagi oleh masyarakat yang terbukti dengan siswa yang harus mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah bahkan sejak eklas satu.

Keuntungan lain jika jam belajar ditambah setiap harinya, dengan mengan tingkat kejenuhan siswa, akan mengurangi penyimpangan perilaku siswa. Karena kecenderungan rusaknya perilaku anak antara pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB usai pulang sekolah.

“Jika mereka (siswa) masih belajar atau berada dilingkungan sekolah, akan lebih mudah mengarahkan dan terfokus dalam pendidikan,” ujarnya.

Disamping itu, untuk menyukseskannya para guru yang ada saat ini harus dilakukan peningkatan kualitas dan kemampuyan dalam mendidik. Sehingga, siswa tidak perlu lagi mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah.

(afr/tribun-medan.com)
Editor: Raden Armand Firdaus
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas