Presiden Terima Pengakuan UMKM Internasional
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima pengakuan internasional
Redd mengatakan,
di bawah pemerintahan Presiden SBY, Indonesia telah mempercepat
pengembangan UMKM. Kebijakan Presiden, termasuk soal kredit usaha rakyat
(KUR) pada 2007, menunjukkan komitmen kuat dan jelas untuk meningkatkan
taraf hidup pelaku UMKM.
"Akselerasi ini terbukti efektif untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran," kata Redd.
Sementara
itu, Presiden mengatakan, pengakuan tersebut sebenarnya ditujukan
kepada bangsa Indonesia. Pada kesempatan itu, Presiden mengajak seluruh
pelaku pembiayaan mikro untuk terus berjuang dan mengembangkan kebijakan
dan gerakan kredit dan keuangan mikro.
"Ini dapat mencegah kesenjangan si kaya dan si miskin di negeri kita," kata Presiden.
Turut
hadir pada konferensi tersebut, antara lain, Ibu Negara Ny Ani
Yudhoyono, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Koperasi
dan UKM Syarief Hasan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Perumahan
Rakyat Djan Faridz, Menteri Perindustrian MS Hidayat. Hadir pula para
pelaku pembiayaan kredit mikro, termasuk pendiri Grameen Bank Prof
Muhammad Yunus, sekaligus pemenang Nobel Perdamaian 2006.
Pada kesempatan itu, Presiden kembali menjelaskan kebijakan Indonesia terkait pengembangan UMKM.
"Pertama,
penyaluran kredit mikro, baik dengan atau tanpa jaminan pemerintah.
(Penyaluran kredit) dengan jaminan pemerintah, KUR, progresnya bagus.
Sejak 2007, total kredit mikro yang dialirkan ke masyarakat mencapai Rp
87 triliun atau 9,5 miliar dollar AS," kata Presiden.
Dana
sebesar itu, kata Presiden, telah menggerakkan 7 juta unit UMKM. Salah
satu hal yang menonjol dari penyaluran kredit ini adalah rendahnya
tingkat non performing loan (NPL) atau kredit yang rendah.
Kedua, pemerintah juga terus mengembangkan financial inclusion
atau gerakan keuangan untuk semua, melalui skema bantuan masyarakat
berpenghasilan rendah atau sangat rendah. Beberapa bank bahkan telah
mendorong masyarakat menabung dengan menggratiskan biaya administrasi
tabungan.
"Sejak diluncurkan 2010, ini telah menghasilkan 2 juta
rekening baru dari mereka yang berpenghasilan rendah dan sangat rendah.
Dari sini terkumpul Rp 2 triliun atau 200 juta dollar AS.
Ketiga,
Indonesia tengah mematangkan strategi nasional pembangunan ekonomi yang
menekankan financial inclusion. Pemerintah, pihak swasta, dan
masyarakat telah bekerja sama memperluas layanan bank tanpa cabang. Ini
adalah skema kerja sama antara perbankan dan perusahaan telekomunikasi
dan pedagang retail. Hal ini, kata Presiden, bertujuan mengurangi biaya
layanan bank.