A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Buruh : Rp 1,3 Juta UMP Sumut Tak Manusiawi - Tribun Medan
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Medan

Buruh : Rp 1,3 Juta UMP Sumut Tak Manusiawi

Selasa, 13 November 2012 20:15 WIB


Laporan Wartawan Tribun Medan / Feriansyah Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN
-Seribuan buruh mengakhiri aksinya di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Medan, Selasa (13/11/2012). Sebelumnya, ribuan buruh ini menggelar unjuk rasa di Pemko Medan.

Disini, para buruh memprotes besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara 2013 yang hanya sebesar Rp 1.305.000 dianggap tidak sesuai dan tidak manusiawi. Buruh yang mengatasnamakan Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) Provinsi Sumatera Utara ini, menilai, UMP yang ditetapkan Gubernur Sumatera Utara pada 18 Oktober lalu jelas tidak manusiawi.

"Kenaikan UMP yang hanya Rp 105.000 tidak sesuai kebutuhan riil pekerja untuk tahun depan," kata Minggu Saragih, Ketua KSPI-DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut.

Minggu mengatakan, penetapan UMP ini sangat tidak mempertimbangkan kondisi riil buruh.

"Bisa jadi ada permainan dalam penetapan UMP tersebut. Kalau hanya naik Rp 105.000, tidak ada artinya bagi pekerja untuk tahun depan. Kita juga meragukan survei yang dilakukan Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) Sumut," ungkapnya.

Minggu juga mengungkapkan, setidaknya UMP Sumut harus sebesar Rp 1,8 juta, sehingga akan bisa mengakomodir kebutuhan buruh.

"Jika tidak, serikat pekerja akan menggelar aksi besar-besaran dan melumpuhkan industri di Sumut," ancamnya.

Dia mengungkapkan, pihaknya, sedang mengumpulkan bukti apakah ada permainan yang mengorbankan nasib jutaan pekerja di Sumut. Para serikat pekerja mengaku sangat terkejut dan prihatin dengan penetapan UMP ini.

Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI)-1992, Pahala Napitupulu, menilai kenaikan UMP ini tidak sesuai dengan laju inflasi, tetapi hanya menyesuaikan kepada kebutuhan harga bahan pokok setelah kenaikan gaji. "Jadi secara nominal sebenarnya tidak naik, karena harga kebutuhan pokok juga naik," katanya.

Sementara, Wakil Ketua Depeda Sumut, Edward Pakpahan, mengatakan, penghitungan UMP diawali pelaksanaan survei kebutuhan hidup layak (KHL) yang naik 14 komponen dari sebelumnya 46 komponen, ke pasar-pasar tradisional di kabupaten/kota se-Sumut yang berpedoman kepada Permenakertrans Nomor 13 Tahun 2012.

"Awalnya kita tawarkan UMP naik 15 persen dari tahun lalu. Tapi karena penetapan UMP ini berdasarkan KHL dan terbentur pada Permenakertrans Nomor 13, jadi besaran yang didapatkan hanya Rp 1.305.000," ujarnya.

Menurutnya, sangat sulit untuk mewujudkan besaran UMP dengan nilai yang diinginkan karena terbentur pada komoditas yang dimasukkan dalam KHL.

"Tapi kan nilai ini bukan hitungan mati, karena masih ada penetapan upah minimum kota (UMK) dan upah minimum sektor kota (UMSK). Nantinya perhitungan ini tidak lagi dipatok pada lajang ,tapi juga dihitung proteksi untuk pekerja yang sudah menikah," jelas Edward yang juga Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Sumut ini.

Di Kantor Gubernur, massa buruh ditemui Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumut, Bukit Tambunan didampingi Asisten II Hj Sabrina. Bukit menjawab belum dapat memberikan keputusan atas tuntutan buruh lantaran Gubernur Sumut Gatot Pudjo Nugroho sedang berada di Jakarta.

"Nanti, para perwakilan buruh akan kami undang untuk berdialog tentang kenaikan UMP ini," ujarnya.

Pantauan www.tribun-medan.com, buruh tidak bertahan lama di depan Kantor Gubernur Sumut. Usai diterima Kadisnakertrans Sumut, massa langsung membubarkan diri dengan tertib. (fer/tribun-medan.com)
Penulis: Feriansyah
Editor: Silfa Humairah
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas