• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Medan

Saatnya Perempuan di Ruang Publik

Selasa, 8 Januari 2013 18:33 WIB
Perempuan Saatnya di Ruang Publik


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN -
Kesetaran gender merupakan isu yang saat ini masih pro dan kontra di tengah masyarakat.  Kesetaraan gender sering dikaitkan dengan agama sebagai pembatas ruang publik untuk wanita.  Banyak ayat Alquran dan Hadits yang sering dipakai dan dijadikan dasar legitimasi untuk ketidakadilan secara gender. Hal ini yang dikatakan  Budhi Munawar Rachman selaku Program Officer The Asia Foundation, dalam seminar dan talkshow Perempuan dan Ruang Publik di Peradilan Semu Universitas Sumatera Utara, Selasa (8/1/2013)

Dalam seminar ini Budhi membahas peranan Islam terhadap ruang publik yaitu dari kalangan Islam progresif yang berpendapat ketidaksetaraan gender merupakan penafsiran tradisional dan soal kehidupan sosial tidak ada kaitannya dengan kerohanian. Pertanyaan mendasar Islam progresif ini, kalau di hadapan Allah laki-laki dan perempuan setara mengapa di hadapan manusia malah tidak?

Menariknya lagi, Budhi membahas di Indonesia sendiri masyarakat sudah sadar akan kedudukan perempuan di ruang publik, hal ini berdasarkan survey The Asia Foundation dan CSIS 96% setuju dengan kesempatan pendidikan yang tinggi terhadap perempuan  78, 7 % setuju dengan semakin baik pendidikan perempuan semakin baik keluarga.

Hal ini disebabkan pada tahun 1930 Pesantren Denagar Jombang membuka kelas putri dari sinilah gerakan perempuan di Indonesia di mulai, selanjutnya ada pergururan khusus putri yakni Diniyyah Putri di Padang Panjang. Awal gerakan perempuan dimulai dengan pendidikan.

Selain itu Mazdalifah selaku ketua yayasan untuk perempuan perkotaan Medan (YP2M) dalam seminar juga menjelaskan pemberdayayan perempuan sanagt di perlukan agar terciptanya kemandirian. Saaat ini di kota Medan pemberdayaan ini telah dilakukan yayasan (YP2M) yang pengorganisasian kelompok dengan pemberian modal dan pemberian informasi.

Pemberdayaan ekonomi perempuan sangat penting untuk mengatasi kemiskinan yang dihadapi kaum perempuan dan keluarganya. Sementara itu YP2M melakukan pemberdayaan perempuan tanpa merubah fitrah perempuan sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.  

Seminar dan talkshow ini terselenggara atas kerjasama Universitas Paramadina, The Asian Foundation, YP2M serta Universitas Sumatera Utara. Peserta seminar dan talkshow berjumlah 230  orang. (mg1)
Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
230291 articles 33 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas