Laporan Wartawan Maulina Siregar

TRIBUNMEDAN.com, MEDAN -   Setiap harinya, Al Junishar atau yang akrab disapa Agam mendatangkan bubuk kopi dari Aceh untuk kebutuhan di kedai kopinya, Keude Kupie Ulee Kareng & Gayo. Ia menyeleksi benar penyedia kopi-nya.

Agam telah memilih seorang distributor kopi kenamaan Aceh yang memang telah terbukti kualitasnya sejak tahun 1974. Kopi berkualitas pun harus disajikan dengan cara berkualitas. Terhadap barista, Agam sangat ketat. Jika awalnya Agam memilih membawa barista asal Aceh, kini ia memilih mentraining calon baristanya selama dua bulan.


“Kesannya tampilan kopi itu sederhana, tapi untuk sampai pada kualitas rasa yang diinginkan, kita bisa uji coba sampai berpuluh-puluh kali. Tak lain agar takarannya pas,”tutur Agam.

Dan karena menu yang ditawarkan sejak awal adalah kopi, Agam pun tak banyak menawarkan menu makanan. Menurutnya kawan khas mium kopi adalah makan ringan seperti timpan da gorengan. Memilih kopi Aceh, tentu saja karena Agam adalah putra tanah rencong. Baginya, tiada lain kopi senikmat kopi Aceh. Ia menuturkan, minum kopi bagi masyarakat Aceh bukanlah trend gaya hidup baru seperti yang dialami warga Medan.Minum kopi bagi warga Aceh adalah bagian dari keseharian.


Maka, melalui Keude Kupie, Agam  mengenalkan kepada masyarakat tentang minum kopi. “Di sini, pemula ataupun penikmat tak punya jarak. Tak ada kesan eksklusif. Kalau dilihat berdasarkan jumlah, sebenarnya jumlah pemula itu lebih banyak,”katanya.  

Melihat antusiasm pengunjung yang luar biasa, Agam berencana membuka cabang baru Keude Kupie. Sejauh ini permintaan pengunjung paling banyak agar dibuka di kawasan Sisingamangaraja, Medan Kota.  Semua pengusaha, katanya, pasi bertujuan membesarkan bisnisnya. Namun, Agam tak ingin ambisis membesarkan bisnisnya hingga mengabaikan kualitas. “Aku tak mau kemarok. Buka cabang baru butuh persiapan matang. Kalau terburu-buru, bukan untung nanti yang didapat,”ujarnya.(mom/tribunmedan.com)