Home »

Sumut

Penebangan Hutan Tele Diadukan ke Kementerian

Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona) yang terdiri dari Rohani Manalu, Fernando Sitanggang, Mangaliat Simarmata, Pastor Hillarius

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona) yang terdiri dari Rohani Manalu, Fernando Sitanggang, Mangaliat Simarmata, Pastor Hillarius Karo-karo, dua warga Limbong, Kecamatan Sianjurmula-mula, Anius Limbong dan Ngotma br Limbong menemui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Kehutanan di Jakarta, Rabu (15/5/2013).

Forum Pesona pertama kali mengunjungi Kementrian Lingkungan Hidup. Mereka diterima oleh Asisten Deputi Pengaduan dan Penataan Hukum Administrasi Lingkungan, Sugeng Priyanto dan beberapa staf, di ruang rapat Deputi V Kementrian Lingkungan Hidup. Dalam pemaparan awal, Anius Limbong mengatakan selama 63 tahun dirinya berdiam di Limbong, tidak pernah mengalami banjir hingga merusak persawahan mereka.

Namun sejak tahun 2011, dengan hadirnya PT Gorga Duma Sari di hutan Tele dengan aktifitasnya, banjir dan kekeringan mulai melanda mereka. Tak heran, kata Anius, mereka sudah mengalami gagal panen beberapa kali sejak 2011, 2012 hingga 2013.

Bahkan, permukiman dan areal pertanian saat ini sudah mulai didatangi binatang liar, seperti babi hutan, ular, dan monyet. Hal ini sambung Anius tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Untuk itulah kami berharap kepada Menteri Lingkungan Hidup membantu kami para petani agar penebangan dan pengrusakan hutan Tele dihentikan karena sudah mengancam pertanian kami," ujarnya dalam rilis.

Hal serupa disampaikan Ngotma br Limbong mengatakan, bahwa mereka bermukim di Kecamatan Sianjurmula-mula, persis di kaki perbukitan hutan Tele. Jadi aliran air dari Tele sebelum ke Danau Toba selalu melintasi Limbong. Warga disana selama ini bercocok tanam dengan baik selama puluhan hingga ratusan tahun.

Namun sejak tiga tahun terakkhir, banjir mulai datang. Karakter banjirnya juga aneh atau tidak lumrah. Hujan turun satu jam saja, air turun dengan besar dari hutan Tele dengan membawa kayu-kayu dan batu-batu besar.

Kelamaan, pamatang sawah para warga rusak dan air kemudian meluapi areal persawahan dan tentu merusak tanaman milik warga di empat desa yang ada di negeri Limbong, yakni Desa Habeahan, Desa Sipitudai, Desa Sarimarihit dan Desa Sikam.

Bahkan pola tanam juga terganggu, yang biasanya bisa tanam padi dua kali setahun, akhirnya cuma bisa sekali setahun.

Awalnya, kata Ngotma, warga sudah mulai curiga dengan banjir yang sebelumnya tidak pernah mereka alami. Warga berkeyakinan ada dosa nenek moyang yang harus mereka tanggung, maka kondisi alam menjadi tidak bersahabat.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Raden Armand Firdaus
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help