A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Penebangan Hutan Tele Diadukan ke Kementerian - Tribun Medan
Sabtu, 29 November 2014
Tribun Medan
Home » Sumut

Penebangan Hutan Tele Diadukan ke Kementerian

Rabu, 15 Mei 2013 21:09 WIB

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Adol Frian Rumaijuk
 
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR -
Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona) yang terdiri dari Rohani Manalu, Fernando Sitanggang, Mangaliat Simarmata, Pastor Hillarius Karo-karo, dua warga Limbong, Kecamatan Sianjurmula-mula, Anius Limbong dan Ngotma br Limbong menemui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Kehutanan di Jakarta, Rabu (15/5/2013).

Forum Pesona pertama kali mengunjungi Kementrian Lingkungan Hidup. Mereka diterima oleh Asisten Deputi Pengaduan dan Penataan Hukum Administrasi Lingkungan, Sugeng Priyanto dan beberapa staf, di ruang rapat Deputi V Kementrian Lingkungan Hidup. Dalam pemaparan awal, Anius Limbong mengatakan selama 63 tahun dirinya berdiam di Limbong, tidak pernah mengalami banjir hingga merusak persawahan mereka.

Namun sejak tahun 2011, dengan hadirnya PT Gorga Duma Sari di hutan Tele dengan aktifitasnya, banjir dan kekeringan mulai melanda mereka. Tak heran, kata Anius, mereka sudah mengalami gagal panen beberapa kali sejak 2011, 2012 hingga 2013.

Bahkan, permukiman dan areal pertanian saat ini sudah mulai didatangi binatang liar, seperti babi hutan, ular, dan monyet. Hal ini sambung Anius tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Untuk itulah kami berharap kepada Menteri Lingkungan Hidup membantu kami para petani agar penebangan dan pengrusakan hutan Tele dihentikan karena sudah mengancam pertanian kami," ujarnya dalam rilis.

Hal serupa disampaikan Ngotma br Limbong mengatakan, bahwa mereka bermukim di Kecamatan Sianjurmula-mula, persis di kaki perbukitan hutan Tele. Jadi aliran air dari Tele sebelum ke Danau Toba selalu melintasi Limbong. Warga disana selama ini bercocok tanam dengan baik selama puluhan hingga ratusan tahun.

Namun sejak tiga tahun terakkhir, banjir mulai datang. Karakter banjirnya juga aneh atau tidak lumrah. Hujan turun satu jam saja, air turun dengan besar dari hutan Tele dengan membawa kayu-kayu dan batu-batu besar.

Kelamaan, pamatang sawah para warga rusak dan air kemudian meluapi areal persawahan dan tentu merusak tanaman milik warga di empat desa yang ada di negeri Limbong, yakni Desa Habeahan, Desa Sipitudai, Desa Sarimarihit dan Desa Sikam.

Bahkan pola tanam juga terganggu, yang biasanya bisa tanam padi dua kali setahun, akhirnya cuma bisa sekali setahun.

Awalnya, kata Ngotma, warga sudah mulai curiga dengan banjir yang sebelumnya tidak pernah mereka alami. Warga berkeyakinan ada dosa nenek moyang yang harus mereka tanggung, maka kondisi alam menjadi tidak bersahabat.

Sampai-sampai pernah dilakukan penyelidikan oleh warga siapa tahu ada yang berbuat dosa di kampung atau negeri mereka sehingga banjir mulai datang dan binatang buas juga memasuki perkampungan mereka.

Perempuan yang mengaku terharu bisa menginjakkan kakinya di kantor Menteri Lingkungan Hidup ini kemudian bercerita, kesadaran warga mulai terbuka manakala datang Kelompok Studi Pengembangan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM).

Kelompok ini memutar film di kampung mereka mempertontonkan bahwa banjir dan erosi terjadi akibat penebangan kayu hutan. "Sadarlah kami, penyebab banjir dan masuknya binatang buas ke perkampungan adalah akibat penebangan kayu di hutan Tele jadi bukan karena dosa nenek moyang kami," katanya.

Tak lama, warga melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati Samosir meminta penebangan kayu hutan Tele distop. Aksi 8 April 2013 itu berhasil mendesak Dinas Kehutanan Kabupaten Samosir mengeluarkan surat yang intinya meminta penghentian sementara operasional penebangan dan pengangkutan kayu hutan Tele oleh PT Gorga Duma Sari.

Sayangnya, surat itu tak digubris PT Gorga Duma Sari yang tetap menebangi kayu hutan Tele. Tak mempan di kampung, mereka kemudian mengadukan persoalan yang mengancam ribuan nyawa di Sianjurnula-mula ke Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan.

"Jadi mohonlah bapak dan ibu, agar tidak sia-sia kedatangan kami jauh-jauh datang dari kampung sana ke Jakarta ini, tolonglah biar dicabut ijin PT Gorga Duma Sari," katanya.

Menanggapi testimoni dua warga, ditambah penjelasan Forum Pesona yang menegaskan PT Gorga Duma Sari hanya bermodalkan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) sudah leluasa menebangi kayu di hutan Tele seluas 800 hektar, tanpa ada ijin lingkungan,  ijin perkebunan dan ijin peternakan, sebagaimana rencana perusahaan ini untuk membuat perkebunan dan peternakan di lokasi lahan yang mereka dapatkan ijin lokasinya dari Bupati Samosir.

Asisten Deputi Bidang Penataan dan Pengaduan Hukum Administrasi Kementrian Lingkungan Hidup, Sugeng Prayitno menegaskan pihaknya akan mempelajari semua laporan dan dokumen yang sudah disampaikan Forum Pesona untuk disampaikan ke Menteri Lingkungan Hidup.

"Saya terima pengaduan bapak ibu sekalian, saya rangkum lalu saya rekomendasikan ke menteri melalui deputi yang membidangi, bila perlu informasi langsung juga kita sampaikan ke beliau," kata Sugeng sembari berterimakasih Forum Pesona sudah datang melaporkan pengrusakan lingkungan, karena memang masyarakat merupakan elemen terpenting dalam menjaga lingkungan.

Sementara, usai menggelar pertemuan dengan Kementrian Lingkungan Hidup, Forum Pesona kemudian menyampaikan pengaduan yang sama ke Kementrian Kehutanan.

Saat perwakilan Forum Pesona melakukan pertemuan dengan pihak Kementrian Kehutanan di Lantai 11, sekelompok warga mengatasnamakan dirinya Yayasan Raja Lintong Situmorang mendatangi kantor Kementrian Kehutanan sambil membawa spanduk yang isinya meminta dan menghimbau Menteri Kehutanan menyetop pengrusakan hutan di Tele.

"Kami melakukan aksi ini sebagai bentuk himbauan kepada Menteri Kehutanan agar memperhatikan perijinan yang sudah merusak lingkungan hutan Tele," kata Batara Situmorang, Ketua Yayasan Raja Lintong Situmorang.

Menurut Batara, sebelumnya pada Februari 2013 pihaknya sudah menghimbau Menteri Kehutanan melalui surat yang intinya mendesak kementrian untuk memperhatikan pemberian ijin yang justru merusak hutan. "Tapi sampai saat ini belum ada respon dari menteri," kata Batara.

"Dampak dari penebangan dan pengrusakan hutan Tele akan merusak lingkungan yang ada, baik masalah air di persawahan Limbong, Kecamatan Sianjurmula-mula dan Harianboho, Kecamatan Harian," ujar Batara lagi.

Terakhir, Batara atas nama Yayasan Raja Lintong Situmorang juga mendesak Bupati Samosir segera mencabut ijin PT GDS.

(afr/tribun-medan.com)
Editor: Raden Armand Firdaus
Sumber: Tribun Medan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas