Senin, 20 April 2015

Nilai Tambah dengan Kopi Arabika

Senin, 20 Mei 2013 08:40

Nilai Tambah dengan Kopi Arabika - kopi.jpg
IST
Ilustrasi Kopi

Jika sebelum ini produksi kopi arabika hanya 10 persen dari produksi nasional sekitar 680.000 ton, kini sudah mencapai 15 persen. Idealnya produksi nasional kopi arabika harus 30 persen.

Hal ini diungkapkan Yusianto, peneliti pada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia pada sarasehan ”Prospek Agribisnis Kopi Arabika” di Fakultas Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur, Sabtu (18/5/2013). ”Kini sudah banyak petani beralih dari tanaman kopi robusta ke arabika,” kata Yusianto.

Selama ini kopi arabika dikenal dengan tanaman di dataran dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut. Kini sudah bisa di dataran sedang dengan ketinggian 700 meter.

Untuk mentransformasi dari tanaman kopi varietas robusta ke arabika, kata Yusianto, tidak perlu mengganti pohon, tetapi dilakukan dengan cara sambung pucuk. Artinya, menyambung tunas air pada batang robusta dengan pucuk jenis arabika.

Awalnya tahun 1696, kopi arabika pertama di Nusantara ditanam di dataran rendah di Betawi. ”Bagi petani kopi di ketinggian sedang yang ingin mengganti klon (varietas) robusta jadi arabika, di Puslit Kopi dan Kakao tersedia benih dengan berbagai klon yang dibutuhkan,” kata Yusianto.

H Misbachul Khoiri Ali, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia Jember, mengatakan, petani kopi rakyat masih mengolah hasil budidaya secara asalan. Hanya sebagian kecil yang sudah mengolah kopi secara basah.

”Sekarang ada sekitar 500 hektar tanaman kopi robusta diubah menjadi arabika. Tahun depan akan ada bantuan bibit dari pemerintah provinsi mengganti 500 hektar robusta jadi arabika,” kata Misbachul Khoiri Ali.

Halaman12
Editor: Raden Armand Firdaus
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas