Laporan Wartawan Tribun Medan/ Eris Estrada Sembiring

Tribun-Medan.com, Medan-PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Pelindo I akhirnya berhasil menurunkan Turn Round Time alias total waktu kapal di dari 7-8 hari menjadi 2 hari di Pelabuhan Belawan khususnya Belawan International Container Terminal (BICT). Sebelumnya, Turn Round Time di Belawan per kapal bisa mencapai 7-8 hari dengan produktivitas bongkar muat berkisar 18 box/crane/hour (B/C/H). Hal ini akibat panjang dermaga yang kurang, yakni hanya 850 M plus jumlah alat bongkar muat (container crane) yang minim, yakni hanya 6 unit. Inilah yang ditenggarai sering dikeluhkan pengusaha, khususnya eksportir dan importir, dan lamanya waktu pelayanan kapal yang ikut mengakibatkan biaya tinggi logistik yang tinggi. Akibatnya, produk-produk dari Sumatera Utara bisa menjadi mahal dan kurang competitif.

Humas Pelindo I, Eriansyah kepada Tribun mengakui selama ini sistem prosedur (Sispro) tata pelayanan kapal tidak menggunakan windows system dan tidak menerapkan jaminan pelayanan bagi pelanggan.

"Dengan menurunnya Turn Round Time di Pelabuhan Belawan, maka produktivitas dan kapasitas pasti meningkat. Secara otomatis akan ada penghematan dalam pengiriman barang sehingga dapat menurunkan biaya logistik. Alhasil, harga dari produk daerah hinterland semakin kompetitif terutama hinterland Sumatera," katanya, Rabu (22/5) di Medan. Keberhasilan mempersingkat waktu kapal di pelabuhan Belawan ini, katanya, yang kemarin memperoleh penghargaan Kementerian BUMN yang diserahkan langsung oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

Program percepatan pelayanan logistik di Belawan ini, tambahnya, merupakan efek dari perpanjangan Dermaga 100 meter, perluasan Container Yard (CY) 6000 m2, penambahan peralatan bongkar muat seperti Container Crane (CC) sebanyak 5 (lima) unit, Harbour Mobile Crane (HMC) sebanyak 2 (dua) unit, Rubber Tire Gantry (RTG) sebanyak 15 (lima belas) unit. Selain itu pihaknya juga menerapkan Sispro dengan menggunakan Window System, penerapan Service Level Agreement/Service Level Guarantee, serta pemasangan Moveable Fence antar terminal internasional dan domestik. Terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM), dengan menambah SDM operator dan menerapkan sistem insentif produksi.

Urgensi program ini telah meningkatkan kapasitas terminal dan produktivitas bongkar muat sehingga menurunkan Turn Round Time kapal, meningkatkan kapasitas terminal dari 800.000 Teus menjadi 1.200.000 Teus, dan meningkatkan produktivitas dari 18 box/crane/hour (B/C/H) menjadi 25 box/crane/hour (B/C/H) sehingga menurunkan biaya logistik. Untuk tahap kedua, disebut Optimalization Program (2013-2014) yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas dan peningkatan kualitas layanan dari Panamax size menjadi Post Panamax Size. Programnya dibagi dalam 2 (dua) paket, paket pertama adalah penambahan Dermaga 350 m dan Container Yard 15 Ha, Container Crane 4 Unit dan Transtainer 12 Unit dan paket kedua adalah penambahan Dermaga sepanjang 350 m dan CY seluas 15 Ha, CC sebanyak 4 (empat) unit dan Transtainer sebanyak 12 (dua belas) unit.

"Progresnya sampai saat ini adalah program ini telah diakomodasi dalam RKAP Pelindo I tahun 2013, Master Plan telah mendapat pengesahan Menteri Perhubungan, Engineering Design telah diselesaikan, telah ada surat persetujuan prinsip Menteri Perhubungan dan Konsesi dalam tahap pembahasan dan negosiasi dengan pihak Kementerian Perhubungan," katanya.

Wakil Ketua Umum Bidang Logistik dan Intermoda Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut, Khairul Mahalli mengakui, sejauh ini sudah ada perbaikan pada sistem logistik Sumut. Namun, pengguna jasa menilai masih belum maksimal. Pemerintah harus mendorong percepatan supaya Sumut tidak kalah dalam bersaing dari sektor perdagangan, baik impor maupun ekspor.

“Pada 2015, kami harus bersaing dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN dengan adanya sistem perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kalau infrastruktur tidak dibenahi, Sumut akan kalah bersaing,” katanya.

Ia berharap biaya logistik yang diderita para eksportir dan importir selama ini, yakni 25 persen dari ongkos produksi, akan turun dengan optimalisasi infrastruktur yang dilakukan di Pelabuhan Belawan. Ia mencontohkan mahalnya biaya logistik perusahaan di Sumut untuk pengapalan antarprovinsi seperti ke Papua. Biaya pengiriman barang dari Medan ke Papaua yang biasa mencapai sekitar Rp 35 juta per kontainer, sedangkan ke Rotterdam di kisaran 1.200 -1.500 dolar AS atau Rp 12 juta-Rp15 juta. (ers/tribun-medan.com)