Materi dari Penulis Pidato Presiden
Qintari Aninditha mewakili Sumut di ajang Indonesia Youth Forum
MEDAN-TRIBUN.com, MEDAN - Qintari Aninditha mewakili Sumut di ajang Indonesia Youth Forum (IYF) 2013 di Bandung, Jawa Barat. Bersama 200-an wakil dari provisi lain, perempuan yang akrab disapa Ditha ini menjalani serangkaian kegiatan yang berlangsung pada 23-26 Mei ini. Berikut laporan atau citizen reporter Ditha di hari kedua penyelenggaraan IYF.
Di hari kedua Indonesia Youth Forum (IYF), Jumat (24/5), kami mendapat materi dari Fadh Jibran. Beliau adalah satu dari tiga penulis naskah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan pernah masuk ke dalam tim pengembangan karya tulis sosial politik ASEAN.
Fadh bercerita tentang pengalaman beharganya selama ini, dan memberi motivasi kepada kami agar mulai menulis hinnga membuat karya tulis. "Latih diri untuk menyuarakan gagasan dan pandangan ke dalam sebuah tulisan dan biarkan dunia mendengar kalian dalam keheningannya sendiri," begitu kira-kira yang beliau katakan.
Menurutnya, hanya kata-kata yang bisa menembus dinding dan peradaban, dan sudah terbukti betapa hebatnya pengaruh tulisan dan literatur dalam kehidupan manusia. Yang bahkan bisa mengubah tatanan politik dan stigma masyarakat. Kehebatan seseorang akan hilang ditelan zaman, dan tulisan membuat mereka abadi. Seperti halnya saya yang berbagi mengenai rangkaian IYF melalui citizen reporter, sehingga apa yang saya dapat di sini tidak hilang begitu saja, melainkan juga bermanfaat bagi yang lain tanpa harus hadir di Bandung.
Intinya bisa atau tidak, suka atau tidak, mulailah menulis dan biarkan dunia tahu isi kepalamu. Apalagi kami pemuda dengan social project yang membutuhkan dukungan, dan kami dituntut untuk bisa paling tidak mempengaruhi masyarakat untuk ikut sadar dan peduli pada tulisan kami.
Selain itu, agenda kedua kami world cafe, yang dibagi 12 topik. Dan tiap delegasi berdiskusi dalam tiga grup yang mendiskusikan topik berbeda.
Selain itu kami membahas tentang media sosial yang telah menjamur. Sebagai penikmat media sosial yang cerdas, yang kita lakukan adalah memaksimalkan sosial media juga meminimalisir dampak buruk karenanya. Dan kembali lagi ke tulis menulis, sosial media bisa membantu kita untuk lebih didengar.
Kami juga diikutkan dalam International diplomacy simulation oleh Tim Kementrian Luar Negeri. Kami belajar negosiasi dan lobi, diplomasi dan keprotokolan. Selain itu, kami juga berlatih menari untuk flash mob pada Car Free Day Dago minggu nanti.
(yns/tribun-medan.com)