Penderita Stroke Sering Dihadapkan Pada Pilihan Euthanasia
Prof Dr Oloan Siahaan,SPAN KIC, anastesiolog intensivist yang
Laporan Wartawan Tribun Medan /Maulina Siregar
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Prof Dr Oloan Siahaan,SPAN KIC, anastesiolog intensivist yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia (UNPRI) beberapa waktu lalumengatakan di rumah sakit besar banyak penderita yang dirawat di ICU, telah diberikan pengobatan optimal dan sokongan pernapasan serta sirkulasi yang maksimal, ternyata tidak menunjukkan hasil. Prof Oloan menceritakan, pengalaman yang paling sering terjadi dan dihadapkan pada pilihan euthanasia adalah penderita stroke, yang mengalami pendarahan di otak.
“Kasus stroke itu ada dua macam. Hemmoragis yakni pecahnya pembuluh darah di otak karena ekanan darah tingg. Yang keuda adalah infarct, biasanya disebabkan penyumbatan kolesterol di otak. Perlu diperhatikan infarct ini sering dialami mereka yang diabetes komplikasi,”Prof Oloan menjelaskan. Ketika pasien stroke atau yang lainnya memasuki ruang ICU dan tidak menunjukkan tanda-tanda vital kehidupan tanpa bantuan mesin serta kondisi mati batang otak, euthanasia bisa diajukan oleh pihak keluarga.
“Sekarang keluarga pasien umumnya sudah bias menimbang dengan matang. Jujur saja, semakin lama dipertahankan kondisi tersebut, biaya mahal. Bisa mencapai Rp5 juta per hari sementara tidak ada tanda kemajuan,”katanya. Melepas ventilator,respirator (mesin nafas) ,infus dan mesin pendukung lainnya, tidak bias serta merta dilakukan.
(mom/tribun-medan.com)