• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Medan

Susi Relakan Tubuhnya Jadi Suap untuk Rektor IPDN

Selasa, 11 Juni 2013 21:40 WIB
Susi Relakan Tubuhnya Jadi Suap untuk Rektor IPDN
TRIBUN JABAR / Dicky Fadiar Djuhud
Susi Susilowati (35) bersama putranya Dimas I Putu Sumaryadi buka suara dan tampil di depan publik, Selasa (11/6/2013). Susi mengungkapkan kepada sejumlah wartawan perihal hubungan dia dan Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), I Nyoman Sumaryadi.

TRIBUN-MEDAN.com, BANDUNG,  — Istri simpanan Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Susi Susilowati, menceritakan awal mula percintaannya dengan I Nyoman Sumaryadi. Alkisah, pada tahun 2011 lalu, Susi hendak memasukkan anak teman dekatnya untuk bersekolah di IPDN yang terkenal dengan persaingan ketatnya.


Singkat cerita, ia pun akhirnya menghubungi I Nyoman agar anak tersebut bisa masuk IPDN secara mulus. "Dari situlah saya lebih dekat dengan Bapak (I Nyoman). Beliau setiap hari menghubungi saya," kata Susi saat konferensi pers di Graha Inilah Pasim di Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (11/6/2013).


Susi mengaku niatnya memasukkan anak tersebut adalah sebagai bentuk balas budi terhadap orangtuanya karena telah membantu saat dirinya menggarap sebuah proyek di Papua. Selain itu, ia merasa iba dengan kondisi keluarga anak tersebut yang dikatakannya sebagai keluarga kurang mampu. Ia juga sudah dua kali gagal masuk sekolah calon praja itu.


Setelah anak tersebut dipastikan menjadi salah satu praja di IPDN dan menyingkirkan salah satu calon praja yang menurut pengakuannya adalah anak salah seorang bupati di Papua, Nyoman kembali menghubungi Susi. Dalam percakapannya kala itu, sang rektor meminta imbalan atas jasanya.


"Beliau meminta imbalan, tapi dengan catatan harus menemui beliau di Bandung. Mau tidak mau saya turuti karena saya juga ingin mengucapkan terima kasih," ujar Susi.


Susi menambahkan, I Nyoman meminta imbalan berupa cendera mata sabuk Manokwari dari Papua berlapis emas 24 karat. Usut punya usut, harga sabuk tersebut bernilai Rp 180 juta.


"Dia bilang, saya harus ke Bandung dan memberikan apa yang dia (I Nyoman) mau. Saya sudah kepalang basah memasukkan anak ini. Saya takut anak itu malah dikeluarkan dari IPDN," bebernya.


Karena Susi dan orangtua anak titipannya itu tidak mampu menuruti permintaan I Nyoman, tubuh Susi pun menjadi penggantinya. Sang rektor pun meminta wanita asal Kuningan, Jawa Barat, itu untuk memenuhi birahinya di sebuah hotel ternama di bilangan Jalan Pasteur, Kota Bandung.


"Saya bingung. Apa yang harus saya perbuat, Bapak minta sabuk Manokwari yang ternyata harganya sangat mahal, akhirnya 'tumbalnya' saya," katanya.

Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas