Apakah Presiden Stres?

Benarkah presiden stres? Pernyataan itu tanda tanya dibenak saya. Kalimat pernyataan itu terdengar ketika

Apakah Presiden Stres?
KOMPAS.COM/Sandro Gatra
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 

Oleh: Abdi M Tumanggor

Benarkah presiden stres?  Pernyataan itu tanda tanya dibenak saya. Kalimat pernyataan itu terdengar ketika penulis mampir di salah satu warung kopi, yang biasa tempat para orang tua dan kauala muda nongkrong untuk menikmati sajian secangkir kopi.  Penulis hanya pendengar saja dan menikmati segelas kopi, dan hidanagn snack di atas meja dengan sendirian, kebetulan penulis suka menikmati kesendirian untuk menghilangkan rasa penat di kantor. Dan, kebetulan pula tak ada satu pun para pengunjung yang penulis kenal dengan begitu lumayan hiruk pikuknya pengunjung untuk menikmati sajian kopi itu.

Satu meja di sebelah tempat duduk penulis, terdengar kumpulan satu meja bercengkrama  dengan serius membahas perpolitikan di republik ini, salah satunya membahas tentang pidato ketua umum salah satu partai di acara ultah yang ke-12, yang diketuai oleh presiden RI baru-baru ini di Sentul, Jawa Barat, yaitu; slogan untuk pemilu 2014 ”Berbenah, Maju, dan Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat.” Selanjutnya, mengenai keluhan tentang ketidakadilan pemberitaan dari media, ketidakadilan soal berpolitik dari lawan-lawan politik yang selalu menelanjangi partai penguasa saat ini. Juga, soal penegakaan hukum yang dicap sebagai partai terkorup, padahal presiden mengklaim bahwa lembaga pemberantasan korupsi  ( KPK ) adalah dibentuknya selama masa pemerintahannya dan tidak ada yang bisa mengintervensi.

Kalau presiden menyadarinya, wajar jika partai pemerintahan yang berkuasa kena kritik, kena serangan lawan politik. Kalau benar, seharusnya diamkan saja. Ngapain takut dan marah? Kan karena di atas makanya banyak serangan. Tidak fair sebenarnya kalau dijadikan media, dan lawan politik sebagai kambing hitam dalam hal ini. Itulah resiko seorang presiden, pejabat, partai penguasa di pemerintahan atau sekali pun public figure. Maaf, contoh kecil  saja, supir angkot kencing di pinggir jalan, itu tidak wah.. bagi media untuk sebagai pemberitaan, dan mungkin orang-orang menganggap itu orang gila (dicueki). Tapi kalau seorang pejabat atau public figure yang kencing di pinggir jalan, itu menjadi berita besar, dan jadi konsumsi pembicaran public. Jadi, jangan salahkan media. Itulah resiko orang yang besar, atau kedudukan yang besar.

Untuk menghadapi gejolak politik menuju pemilu 2014, presiden sebagai ketua umum salah satu partai pada saat ini, memberikan 10 perintah kepada para kadernya. Salah satunya jangan tiarap untuk melawan para lawan politik ( menabuh genderang perang ).

Kenapa sekarang presiden sudah mulai berbicara seperti itu (menabuh genderang perang), dan sudah mulai terbuka menanggapi lawan-lawan politiknya, kemana semua para staf-staf ahlinya (orang loyalitasnya) untuk menangkal serangan lawan politik itu? Mungkin bisa jadi karena masa jabatan prsiden sudah mau habis. Apakah memang presiden kita sekarang lagi galau?

Tentang media yang diklaim tidak pernah punya, baik itu media tv, cetak, dan online. Benarkah?  Itu media  Jurnal Nasional yang pemrednya dulu Ramadhan Pohan, web site demokrat.or.id/, dan juga media yang dulunya di ketua umumi oleh Jhonny Allen , kalau tidak salah namanya tabloid 99, yang di dukung media forsasnews.com/forum harmoni nusantara (yang diketuai oleh Surfenov Sirait), mungkin  masih ada media yang lain yang di belakang beliau. Penulis tidak tahu, apakah memang media-media tersebut sudah mati riwayatnya.

Seyogianya, presiden itu adalah fokus terhadap pemerintahan, bukan menanggapi polemik dalam partai. Biarkan kader-kader internal partai itu sendiri turun tangan. Tanggungjawab partai bukan hanya tanggungjawab ketua umumnya saja. Tapi tanggungjawab bersama. Jika terus-terusan seperti ini, sampai menunggu pemilu 2014, Negara akan mengalami krisis kembali karena tak ada yang fokus menangani permasalahan roda pemerintahan, semua sibuk (fokus) kepada permasalahan politik, baik itu para menteri-menteri, dari kalimat-kalimat lontarannya sudah mengarah ke hal-hal ke politik. Kita berharap  janganlah ambruk kondisi ekonomi pemerintahan sampai pemilu 2014 mendatang dan pemilu 2014 terlaskan sesuai dengan waktu yang ditentukan, tak ada yang istilah penundaan pemilu karena berbagai faktor .(*)

Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved