Kamis, 29 Januari 2015
Home » Sumut

Penyadapan AS dan Australia Bukti Intelijen Indonesia Lemah

Senin, 4 November 2013 13:29 WIB

Laporan Wartawan Tribun Medan/Feriansyah Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat dan Australia yang diduga dilakukan melalui kantor kedutaan kedua negara menyalahi norma dan aturan hubungan diplomatik. Namun dibalik itu semua, seharusnya panyadapan pembicaraan kepala negara dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan pejabat tinggi Indonesia tak akan terjadi jika intelijen Indonesia bekerja maksimal.

Meski penyadapan bertentangan dengan hukum internasional karena tindakan tersebut menabrak norma yang diatur dalam Konvensi Hubungan Diplomatik, namun tetap saja negara-negara berkuasa akan melakukan aksi penyadapan. Ada beberapa faktor kenapa negara berkuasa seperti Amerika dan Australia melakukan penyadapan, yakni Indonesia sangat mempengaruhi konstalasi dunia dalam bidang ekonomi dan kerjasama militer saat ini.

Semakin tumbuhnya investasi China di Indonesia dan membanjirnya produk China membuat negara-negara Barat khawatir terhadap Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. Faktor lain yang menyebabkan aksi penyadapan adalah menjelang Pemilihan Presiden 2014, negara Barat berkepentingan 'memantau bagian terdalam' Indonesia.

"Amerika akan terus mencari akal agar investasi mereka besar di Indonesia. Dan saingan utama ber- investasi di Indonesia adalah China," kata pengamat intelijen Sahat Simatupang melalui surat elektronik kepada Tribun, Senin (4/11/2013).

Mestinya, kata Sahat, pemerintah melalui Presiden tidak usah kaget ketika ada isu penyadapan yang dilakukan Amerika dan Australia. Menurut Sahat, Presiden sebagai pemegang kendali intelijen yang memperolah informasi dari intelijen negara mestinya mengevaluasi kegagalan Indonesia mengantisipasi aksi penyadapan itu.

" Petugas intelijen Indonesia berlapis-lapis. Ada intelijen negara (BIN); ada intelijen keamanan (Polisi); ada fungsi intelijen sandi negara dan ada intelijen dari tiga Matra TNI. Mesti nya tidak mudah bagi negara mana pun menyadap jalur percakapan penting Presiden maupun pejabat negara jika fungsi intelijen berjalan normal dan maksimal," kata Sahat yang akan mengikuti kunjungan program kepemimpinan internasional di Amerika, Maret 2014.

Halaman12
Penulis: Feriansyah
Editor: Silfa Humairah
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas