Kondom, Wanita Seksi dan Citra DPR RI

Sebelumnya saya pernah memuat tulisan tentang,"Lembaga DPR Beralih Jadi Lembaga Percobaan dan Penghiburan".

Kondom, Wanita Seksi dan Citra DPR RI
tribunnews.com


Oleh: Abdi M Tumanggor

Sebelumnya saya pernah memuat tulisan tentang,"Lembaga DPR Beralih Jadi Lembaga Percobaan dan Penghiburan". Nah, saat ini sudah diambang pintu untuk pelaksanaan pemilu legislatif. Dari ribuan calon legislatif tersebut, ada yang namanya cukup populer dan ada yang sama sekali tak pernah terdengar namanya. Ya, mereka adalah para artis, pengusaha, tukang cendol, mantan tukang parkir, pengacara hingga pengangguran yang ikut menjajal peruntungan di kancah politik tersebut.

Dengan partisipasi artis, pengangguran, yang berlatarbelakang bukan seorang politisi yang mencoba-coba terjun ke dunia politik dengan mencalonkan jadi legislatif, sehingga saya berargumen seolah-olah Lembaga Pengawasan, Pembuat Undang-undang itu benar-benar seperti lembaga percobaan, lembaga penghiburan.

Terlepas dari hak setiap warga negara untuk memilih dan/atau dipilih dalam pemilihan umum, hal ini perlu dicermati dan direnungkan bersama, bahwa sebenarnya DPR/DPRD itu bukanlah kedudukan atau pekerjaan yang enak. DPR/DPRD itu adalah kedudukan yang seharusnya diduduki orang-orang yang profesionalitas, pengabdian, dan berkualitas di semua komisi-komisi, karena lembaga legislatif itu adalah lembaga pengawasan birokrasi pemerintahan, lembaga penyusun kebijakan/undang-undang dan anggaran pendapatan belanja negara (APBN) maupun APBD.

Dengan fenomena ini, saya geleng-geleng kepala, dan membayangkannya bagaimanakah arah negara ini ke depannya jika diisi oleh orang-orang yang mengandalkan popularitas saja. Memang, pada dasarnya tidak salah jika para artis mencoba untuk terjun ke dunia politik.Tapi, maklum tugas legislator tidaklah mudah. Karena yang kita tahu, para artis, sebagian besar dari mereka jauh dari panggung politik. Bukan tidak mungkin jika mereka ‘buta politik’, walau ada beberapa orang saja artis yang lumayan punya rasionalitas politik yang baik seperti Rieke Dyah Pitaloka (Oneng) dan Tantowi Yahya.

Tapi artis yang terjun ke dunia politik (caleg) tak bisa juga disalahkan. Umumnya, mereka justru dipinang oleh partai politik. Partai politik beralasan, dengan modal popularitasnya sebagai artis diharapkan peluang untuk mendulang dukungan dari rakyat walau mengesampingkan elektabilitas partai. Bukan perkara mudah untuk lolos menjadi anggota legislatif. Para Caleg harus kampanye agar dipilih oleh rakyat. Dari total caleg 6.576 orang, hanya 560 yang akan terpilih menjadi anggota DPR RI yang duduk di kursi Senayan. Para caleg harus merogoh kantong lumayan besar untuk ongkos kampanye dan lain-lainnya. Besarnya ongkos politik untuk menuju senayan, seolah-olah menjadi ajang bisnis. Para caleg berpikir bahwa pengeluaran yang cukup besar itu akan terbayar semuanya setelah duduk menjadi anggota DPR.

Berdasarkan Surat Edaran Setjen DPR RI No. KU.00/9414/DPR RI/XII/2010 tentang Gaji Pokok dan Tunjangan Anggota DPR adalah Rp 54,9 juta per bulan (ketua) dan Rp 51,5 juta per bulan (anggota).

Jika ditotal pendapatan rutin selama 12 bulan (1 tahun) x 5 tahun = Rp 3,294 untuk ketua dan Rp 3,090 miliar untuk anggota. Jumlah ini masih ditambah beberapa tunjangan lain seperti fasilitas ke luar negeri, dana reses, uang sidang dan lain-lain. Jadi, rata-rata pendapatan yang duduk di Senayan itu bias dikatakan hampir 1 miliar per bulan. Siapa yang tidak tergiur?

Kondom Bekas Pakai Berserakan di Gedung DPR RI

Halaman
123
Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved