Takjub dengan Gunung Sinabung

Sejak September 2013 sampai saat ini, Gunung Sinabung masih saja bergemuruh. Bahkan satu minggu terakhir

Don Sisco Peranginangin, Staff Caritas PSE Medan

Sejak September 2013 sampai saat ini, Gunung Sinabung masih saja bergemuruh. Bahkan satu minggu terakhir tidak menunjukkan intensitas penurunan.

Sebagai seorang pekerja kemanusiaan, melakukan respon tanggap darurat dengan jenis bencana Gunung Api merupakan tantangan tersendiri. Ini disebabkan karakter bencana Gunung Api yang sulit diprediksi dan biasanya berlangsung lama. Saya sendiri yang bekerja di Yayasan Caritas Pengembangan Sosial Ekonomi (CPSE) telah melakukan respon tanggap darurat erupsi Gunung Sinabung sejak September 2013.

Pada tanggal 19 November 2013, pukul 21.50, saya bersama Caritas PSE beserta tim LEARN/Local Emergency Assessment Response Network Sumatera sedang berada wilayah kecamatan payung. Jaraknya tidak begitu jauh dari Gunung Sinabung, sekitar 4-5 Km. Saat itulah saya menjadi saksi kebesaran letusan Gunung Sinabung.

Tertegun sejenak, sambil menatap ke atas langit, saya dan teman-teman kemudian melihat pemandangan yang sangat menakjubkan sekaligus sangat menakutkan. Terpampang jelas di depan mata saya, kebesaran gunung ini. Inilah erupsi Sinabung terbesar. Setinggi 10,000 meter gunung ini melontarkan isi perutnya ke langit Sumatera.

Dari radio yang dikelola media centre, kami mendengar himbauan dari pemerintah agar masyarakat yang diluar radius 3 Km untuk tidak panik dan tidak mengungsi. Namun, sebagai orang yang menyaksikan langsung, saya berpendapat sudah sepatutnya wilayah 5 km ini segera turut untuk mengungsi. Ini dikarenakan, sejak Gunung Sinabung erupsi wilayah ini juga terpapar abu vulkanik. Bisa saja volumenya tidak signifikan, tetapi intensitasnya cukup sering. Semakin sering penduduk terpapar abu vulkanik, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang mereka hadapi.

Sampai tanggal 23 November 2013, jumlah pengungsi berjumlah sekitar 6,000 jiwa tetapi, sejak Minggu, 24 November 2013, jumlah pengungsi melonjak hampir 300 persen menjadi 17,700 jiwa.

Seperti yang saya amati, lokasi pengungsian pun pun semakin banyak, yang dari 16 lokasi menjadi 31 lokasi. Kegentingan logistik menjadi kenyataaan, seperti yang banyak diprediksi lembaga-lembaga kemanusiaan.

Sampai saat ini, kami Caritas PSE memfokuskan bantuan pada sektor makanan, khususnya pada pemenuhan nustrisi. Ini menjadi pilihan kami karena selama masa tanggap darurat ini, pemenuhan nutrisi para pengungsi tidak diperhatikan.

Untuk itulah kami melakukan suplai makanan segar, antara lain sayur mayur dan lauk segar seperti daging sapi ke lokasi penampungan sementara. Selain itu, kami juga melakukan distribusi paket kebersihan pribadi (hygiene kit).

Halaman
12
Penulis: Liston Damanik
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved