Hari Ibu

Untukmu Ibu, di Sini Aku Masih Menunggumu

Bu, maaf tadi pagi saya terpaksa meninggalkanmu.

Moch. Nuzulul Arifin

17 September 2011

Bu, maaf tadi pagi saya terpaksa meninggalkanmu. Meski suaramu terasa utuh menemai perjalananku. Perjalanan ke kantor pun diiringi hati yang bergolak tak karuan. Saya harus datang tepat waktu. Sebab sudah 2 kali kemarin saya sempat ditegur direktur. Karena terlambat tentunya. Meski cuma 10 menit.

Sejak ba’da Shubuh sudah saya rayu untuk sarapan seperti biasanya. Namun entahlah, untuk hari ini serasa ibu menggoda saya. Tidak seperti biasanya memang. Apa biasanya rutin kita lakukan, ibu selalu menolak. Untuk menyeka badanmu pun, terpaksa harus bernegosiasi panjang. Sampai saya menangis.

Meski saya yakin ibu tahu. Pukul 06.00 tepat saya harus berangkat ke kantor. Sebab 45 menit kadang tak cukup untuk perjalanan. Apalagi jika jalanan macet. Ah, saya tak mau berperasangka buruk kepada ibu. Mungkin dengan cara seperti itulah ibu meminta perhatian saya. Perhatian yang tak didapatkan dari kakak-kakak saya.

Sampai kantor, segera aku menuju ruang dokter. Ternyata dokter Anita sudah hadir di situ. Tumben, biasanya pukul tujuh baru sampai. Mungkin karena kemarin saya minta untuk jajaran dokter agar tepat waktu. Operan shift malam ke pagi bisa kami mulai pukul tujuh tepat. Biasanya sering terlambat karena kehadiran dokter jaga yang terlambat juga.

Kebetulan juga, saya dapat meminta advis untuk masalah perawatan ibu. Sudah 3 minggu ini, beliau mengalami stroke. Ini yang ke-tiga kali dialami. Kali ini, beliau benar-benar tidak mau untuk saya rawat di rumah sakit.

“Jangan bawa aku ke rumah sakit lagi ya, Fin,” begitu jelas pesan ibu. Diulang-ulang bahkan. Baik ke saya maupun ke umminya anak-anak, isteriku.

“Kalau aku mati di rumah sakit, siapa yang menangani,” demikian kekhawatiran yang melanda beliau. Meski saya coba yakinkan bahwa beliau akan mendapatkan perawatan yang baik. Apalagi kepala perawatan paviliun adalah sahabat akrabku, Lina. Sebagaimana 3 kali rawat inap yang pernah beliau alami, pasti teman-teman perawat sangat perhatikan beliau.

“Bagaimana ya Pak Arifin? Kondisi ibu memang sudah cukup memprihatinka. GCS-nya sudah tak terlalu bagus sejak seminggu terakhir. Coba kalau mau di rawat di rumah sakit, mungkin ada upaya medis lebih yang bisa diusahakan,” dokter Anita mencoba menjelaskan.

Halaman
1234
Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved