Suci Hendrina Kunjungi Lima Tempat Eksotis di Banda Aceh

KETIKA masih sekolah saya seringkali mendengar Aceh sebagai provinsi yang dikenal dengan

Citizen Reporter dari Bandaaceh, Karyawan Wardah Medan,  Suci Hendrina

KETIKA masih sekolah saya seringkali mendengar Aceh sebagai provinsi yang dikenal dengan Serambi Mekkah, daerah tersebut menjalankan hukum islam secara baik. Bahkan Kota Bandaaceh sangat terkenal dengan peristiwa yang menggegerkan dunia yakni Tsunami. Kini kota tersebut telah tertata rapi, berbagai kawasan yang menjadi dampak terparah terjangan Tsunami kini telah dikelola dengan bagus. Sehingga menjadi tujuan para wisatawan baik dari lokal maupun luar negeri.

Bagi saya mendapat tugas dari perusahaan ke Bandaaceh beberapa waktu lalu merupakan anugerah karena melalui perjalanan dinas tersebut saya dapat mengenal Aceh lebih dalam. Dapat memahami tradisi keislaman sekaligus berkunjung ke berbagai tempat wisata yang sangat menawan. Selama lima hari di Kota Bandaaceh, saya tak melewatkan waktu luang dengan berdiam diri di Hotel. Sehingga sepulang dari kerja saya berkeliling ke berbagai tempat di Kota Bandaaceh, apalagi waktu Magrib di sini pukul 19.00 WIB, jadi ada sekitar dua jam untuk menikmati keindahan senjak di pantai.

Kendati jarak dari pusat kota ke berbagai lokasi wisata tak dekat, namun lalu lintas di Bandaaceh tidak seperti Medan. Disini lalu-lintas relatif lengang dan seluruh pengendara mematuhi lalu lintas. Makanya tak terdengar suara klason yang menggelegar hingga memekakkan telinga. Bahkan ketika melintas saya merasakan kenyamanan dan melihat sejuta pemandangan yang unik. Mata ini serasa di manjakan ketika melihat beberapa pemandangan yang apik diberbagai pantai. Tak hanya itu, keindahan gedung Tsunami serta berbagai foto sejarah turut menjadi kenangan saya ketika berada disana.

Adapun tempat pertama yang saya kunjungi adalah De Joel Bungalow ditempat ini saya terpesona dengan pemandangan pantai berpasir putih. Menurut saya pantai ini terasa dibingkai oleh tebing yang berada disekelilingnya. Tidak hanya menikmati pemandangan, disini saya memanjakan lidah dengan suguhan panganan yang khas seperti Pizza bakar yang memiliki rasa berbeda lantaran ada avocado salad serta minum kelapa muda. Keindahan pantai ini terasa lengkap ketika saya melihat belasan bebek putih berbaris tepat di pinggir pantai.

Esok harinya tepat pukul 17.00 WIB saya kembali melanjutkan perjalanan ke Ulele Bay. Menurut sejarahnya daerah ini dulunya merupakan pemukiman padat penduduk tetapi akibat Tsunami yang melanda Aceh 2006 lalu, mengakibatkan bangunan dikawasan ini bersih disapu air laut tersebut. Informasi yang saya terima dari masyarakat sekitar, hanya Masjid Baiturrahim yang tersisah. Sehingga didalam masjid tersebut terpajang beragam dokumentasi peristiwa Tsunami.  Saya sendiri meluangkan waktu petang untuk beribada di Masjid tersebut, rasa adem dan terlihat puluhan anak-anak yang sedang membaca ayat suci  Alquran.

Setelah itu, saya meneruskan perjalanan ke Pantai Lhoknga. Pantai ini berada tidak jauh dari pusat kota, namun soal pemandangan yang disuguhkan, sangat menawan. Bagi pencinta fotografi mungkin sangat tepat untuk mengambil momen “sunset” dan mensantap makanan khas di pantai ini yakni Mie Leupung.  

Tempat wisata lain yang saya kunjungi adalah Benteng Indra Patra yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu pertama di tanah rencong. Bentuk benteng ini dapat dikatakan besar yang tersusun dari batu gunung berukuran sekitar dua meter. Batu tersebut terlihat direkatkan oleh tanah liat, dulunya kekuatan benteng ini dijadikan masyarakat sebagai tempat pertahanan inti menghadapi armada Portugis pada masa kesultanan Aceh Darussalam.

Adapun lokasi terakhir yang saya kunjungi sebelum meninggalkan Kota Bandaaceh adalah tempat wisata Kapal PLTD apung. Melihat kapan ini saya dapat membayangkan bagaimana kerasnya Tsunami menghantam Kota Bandaaceh. Sehingga kapal yang sebelumnya berada di tengah laut terseret ombak hingga ke kawasan penduduknya yang jaraknya lima kilometer dari bibir pantai. Sekarang kapan ini menjadi tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. Saat citizen reporter ini saya tulis, saya sedang berada di dalam bus menuju Kota Medan.  

(*/cr6/tribun-medan.com)

Penulis: jefrisusetio
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved