citizen reporter

Berkunjung ke Berbagai Tempat Bersejarah di Jepang

SEJAK Januari, saya telah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti serangkaian pendidikan guru, atau yang biasa dikenal Southern

Citizen Reporter dari Jepang, Dosen Sastra Jepang LP31 dan USU, Rudi Gunawan.

SEJAK Januari, saya telah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti serangkaian pendidikan guru, atau yang biasa dikenal Southern Training program. Program Penataran Guru (Teacher Training Program) adalah rogram beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas pengajaran sesuai dengan bidangnya.

Dalam kegiatan tersebut saya merupakan satu-satunya wakil di Sumatera Utara. Setiap harinya kami diberikan pelatihan untuk mengajar serta membuat agenda menganjar yang efektif dan menarik minat siswa. Secara sederhana tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas serta kemampuan para guru dalam mengajarkan bahasa Jepang.

Saya beserta perwakilan 13 Negara di dunia hadir untuk memenuhi undangan beasiswa yang diberikan oleh The Japan Foundation, sebagai lembaga pendidikan Internasional dibawa pemerintah Jepang. Disana seluruh peserta mendapatkan training serta pelatihan tentang metode pengajaran yang bagus oleh staf ahli bahasa Jepang.

Di sela-sela kesibukan mengikuti rutinitas kegiatan, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke berbagai tempat bersejarah di Jepang seperti Kyoto, dan Hiroshima. Untuk perjalanan pertama saya berkunjung ke Museum bom atom 45 di Kota Hiroshima. Museum ini dibuat agar masyarakat tak lupa bagaimana hebatnya guncangan bom atom yang menyebabkan ribuan rakyat Jepang meninggal dunia.

Menurut informasi dari seorang petugas museum, gedung ini dibangun untuk mengenang dan menghormati peristiwa jatuhnya
bom atom di Hiroshima 6 Agustus 1945. Sehingga setiap tahunya pemerintah Jepang kerap menggelar upacara. Ketika saya memasuki gedung itu, pada bagian depan di pajang sebuah dokumen rahasia, dari pihak sekutu tentang alasan mereka menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Dalam penjelasan dokumen itu, yang menjadi alasan adalah tidak adanya tentara sekutu yang tertawan di kota tersebut.

Selain dokumen tersebut, masih banyak dokumen yang tertata rapi, namun, petugas museum tidak menjelaskan seluruh isi dokumen tersebut. Selain itu, sebuah alasan sekutu menjatuhkan bom atom di Jepang adalah untuk menghentikan perang. Ironis memang perang dunia akhirinya akibat dampak bom. Bahkan perdamaian tersebut muncul akibat bom.

Tak hanya itu, didalam museum saya melihat berbagai replika senjata yang tertata rapi. Bahkan seluruh benda yang berada di dalamnya masih terjaga dengan sempurna seperti aslinya. Selain itu, saya juga disuguhkan beberapa pemandangan yang menarik misalkan saja replika bangunan yang hancur saat bom tersebut meledak. Replika gedung itu, menyebabkan saya dapat merasakan bagaimana hebatnya dampak dari bom itu.

Setelah berkunjung ke Hiroshima, selang beberapa hari kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Kota Kyoto. Selama berada di Jepang sangat terkesan ketika berkunjung ke Kyoto ini, karena masyarakat disini sangat menghargai peninggalan budaya kendati pola hidup mereka sudah melek teknologi. Disana saya banyak melihat kuil-kuil peninggalan zaman  keshogunan jepang, seperti kuil kiyomizudera, kuil kinkakuzi dan kuil todaiji.

Namun, disini saya hanya sedikit menjelaskan tentang kuil kiyomizudera yang berdiri sejak 800 tahun lalu. Namun, hingga sekarangbanggunan kuil masih terawat dengan bagus. Saya prediksi luas areal kuil mencapai lima hektar dan seluruh areal masih terjaga keasliannya. Apalagi, di areal itu sangat bersih, tak terlihat satu sampahpun. Jelang beberapa hari kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan ke Pulau Miyajima Jepang

Untuk menuju Pulau Miyajima cukup jauh, apabila menggunakan kapan Ferry menghabiskan waktu sekitar 20 menit dari Pulau Hiroshima. Namun, letihnya perjalanan menuju pulau itu terbayar ketika menyaksikan panorama yang apik. Selain itu, saya melihat kuil Shinto, biasanya kuil tersebut menjadi tempat pernikahan tradisional masyarakat Jepang, namun, ketika saya berkunjung tak dapat melihat tradisi tersebut berlangsung, lantaran jarak cukup jauh, sehingga saya hanya setengah hari saja berkunjung disina dan kembali dengan menggunakan kapal Ferry.

Bagi masyarakat Kota Medan yang hendak bersekolah di Jepang tak ada salahnya berjuang serta memperdalam kemampuan bahasa Jepang karena peluang disini sangat besar. Tak hanya itu, banyak mahasiswa asal Indonesia yang bekerja paruh waktu diberbagai restoran. Apalagi masyarakat Jepang
sangat menerima mahasiswa Indonesia yang terkenal dengan ulet dan pekerja keras.

Selama di Jepang awalnya sangat merasakan kesulitan mencari makanan yang berlebel halal. Namun, seiringnya waktu maka persoalan tersebut tidak menjadi kendala karena cukup banyak situs-situs rumah makan di jejaring sosial di Jepang. Makanya sebelum keluar dari kamar, terlebih dahulu saya mencari tempat makan yang nyaman sekaligus halal. Untuk menuju ke lokasi saya memilih menggunakan kereta api (untuk jarak jauh) dan sepeda (untuk jarak dekat).

(cr6/tribun-medan.com)

Penulis: jefrisusetio
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved