Yulfira Bawa Pulang Emas dan Coklat dari Batam

BEBERAPA hari lalu saya baru saja pulang dari Kota Batam. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menjadikan Kota Batam

Citizen Reporter, Atlet Badminton PB Mutiara Bandung, Asal Kota Medan, Yulfira Barca

BEBERAPA hari lalu saya baru saja pulang dari Kota Batam. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menjadikan Kota Batam untuk berwisata ataupun berkerja. Namun, kunjungan saya di Batam selama 10 hari untuk mengikuti Sirnas yang digelar mulai 23 Maret hingga selesai.

Pada Sirnas kali ini semangat saya untuk bertanding memuncak lantaran kedua orang tua saya, Ayah M.Yafis Fahmi, dan Ibu Juriah, segaja datang dari Medan untuk melihat serta memberi dukungan kepada saya. Tak hanya itu, rasa rindu terasa terobati ketika kedua orangtua hadir, mungkin momen seperti ini tak sering saya rasakan.

Jujur saja selama di Batam, saya tak  memiliki waktu luang yang cukup untuk berkunjung atau jalan-jalan, karena setiap harinya saya berlatih dan bertanding. Otomatis malamnya lelah dan beristirahat. Sehingga tak sering untuk melihat keadaan kota itu. Mungkin bagi yang pernah ke Batam sepakat dengan kalimat yang saya lontarkan bahwa kota yang akrab dengan sebutan seribu ruko itu,  sangat panas.

Namun, ketika saya melintas ke berbagai jalan utama, rasa panas tersebut terbayar, karena tatanan kota sangat bagus. Mungkin Medan lebih besar, tetapi Batam lebih rapi. Artinya jalanan tak semrawut  seperti di Kota Medan. Semua masyarakat mematuhi lalu lintas, walaupun panas mereka tetap sabar menunggu lampu merah menyala.

Setelah merasa pada posisi yang aman dalam bertanding akhirnya saya bersama orangtua berkunjung kesebuah pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Kota Batam, namanya Nagoya. Mungkin selama berkeliling di pusat perbelanjaan ini tak berbeda dengan pusat perbenjaan di Bandung dan Medan. Akan tetapi ada satu makanan yang berbeda, coklat.

Setelah berbincang dengan beberapa warga setempat, rupanya oleh-oleh khas Batam adalah Coklat. Sehingga saya langsung melihat ragam coklat tersebut. Teryata tidak sedikit ditemui aneka coklat import seperti coklat berbentuk aneka minuman keras Anthon Berg, Chocolate Cocktail yang dijual dengan harga relatif mahal sekitar Rp142 ribu.

Selain itu, ada juga nama coklat Chocobun. Chocobun ini singkatan dari Coklat Buah Naga. Coklat asli khas Batam yang terbuat dari buah naga. Mungkin buah naga banyak ditemukan di Batam. Sehingga masyarakat sekitar membuat varian coklat yang berbeda.  Makanya banyak oleh-oleh khas Batam yang bahan dasarnya adalah buah naga, termasuk Chocobun. Meskipun coklat, Chocobun ini selain manis, ada rasa asam-asamnya juga. Dan karena bahan dasarnya adalah buah naga, Chocobun juga baik untuk kesehatan.

Tak hanya membawa pulang coklat sebagai oleh-oleh, saya juga membawa pulang medali emas yang saya persembahkan untuk kedua orangtua. Walaupun kondisi lapangan sangat panas, saya masih mampu bermain maksimal di nomor ganda putri remaja. Berpasangan dengan Dianita saya mampu masuk final dan ketemu pasangan ganda putri satu dari PB Mutiara Bandung lainnya, Molina dan Jesika.

Pada pertandingan final, saya bersama Dianita mampu memperlihatkan kemampuan terbaik dengan bermain tiga set langsung. Awalnya kami berdua sempat "kendor". Namun, setelah menemukan gaya permainan  mampu membalikan keadaan dan menang dua set. Bahkan orangtua tak henti memberikan dukungan semangat dari pinggir lapangan.

(*)

Penulis: jefrisusetio
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved