Sejarah Panjang Gereja Gereformeerd Sumatera Utara

Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara Medan (GKI Sumut - Medan), yang terletak di jalan K.H. Zainul Arifin No. 126 Medan

Sejarah Panjang Gereja Gereformeerd Sumatera Utara
ist
Bagunan Gereja Gereformeerd Sumatera Utara di Medan (kiri). Sekarang menjadi Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara Medan (GKI Sumut - Medan), yang terletak di jalan K.H. Zainul Arifin No. 126 Medan 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Tarmizi Khusairi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara Medan (GKI Sumut - Medan), yang   terletak  di jalan  K.H. Zainul Arifin No. 126 Medan tepat di depan Sun Plaza pada mulanya bernama Gereja Gereformeerd Sumatera Utara.

Pada awalnya tumbuh dari kelompok yang terdiri atas beberapa orang anggota Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta. Kelompok pelayanan ini dimulai 1 Januari 1904 dan terus berkembang, hingga pada tahun 1913 meluas daerah pelayanannya di wilayah Sumatera Utara Bagian Utara dan Sumatera Barat. 

Ketua majelis jemaat GKI Sumatera Utara Anung Gunawan mengatakan,  di Medan terdapat 9 kepala keluarga (kk), di Tapanuli 3 kk, Sumatera Timur 14 kk dan di Sumatera Barat 7 kk. Pelayanan yang semakin berkembang ini, pada tanggal 16 Agustus 1915 dilembagakan tersendiri menjadi Perkumpulan Gereformeerd (Gereformeerd Vereniging) dengan anggota lebih kurang 60 orang.

"Tanggal 16 Agustus inilah yang sekarang diperingati oleh GKI Sumut Medan sebagai Hari Ulang Tahun. Rapat Jemaat pertama kali dilaksanakan pada 24 Oktober 1915. Untuk pembinaan, Majelis Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta menugaskan Ds. W.S. de Haas sebagai Pendeta Utusan," ucapnya, Rabu (22/10/2014).

Gereja ini pernah dipimpin oleh Pendeta. C. Mak yang melayani sejak tahun 1928 hingga tahun 1946. Ia menggantikan Pdt. W.S. Wiersings yang pindah pada 1928. Pada masa pendudukan Jepang (1942 - 1945),  Pdt. C. Mak masuk Camp. Internir sebuah kamp militer di Belawan bersama tawanan orang-orang eropa dibawah kekuasaan Jepang.

http://www.geertmak.nl/ - Pendeta. C. Mak (tengah, berkacamata) saat berfoto bersama istri, anak-anak dan kerabatnya

Di kamp ini banyak diantara mereka yang sakit atau meninggal karena kelaparan. Di antara mereka yang berhasil lolos dari kamp militer tersebut kembali pulang ke negaranya masing-masing, termasuk Pdt C Mak.

http://www.geertmak.nl/ - Geert Mak anak bungsu dari Pendeta C Mak 

Menurut halaman Wikipedia satu diantara anak bungsu dari Pendeta C Mak yakni Geert Mak berhasil menjadi seorang jurnalis di negeri Belanda. Ia kemudian menuliskan kisah keluarga dan sejarah hidup ayahnya di dalam buku yang berjudul  "My Father’s Century" dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "Abad Ayahku".

Geert Mak sendiri merupakan penulis terkenal di eropa, buku karangannya yang lain In Europe menjadi buku best seller di eropa terjual sampai 400 ribu copies.

Di Sumatera Utara sendiri, pelayanan perkumpulan Gereformeerd terus berkembang dan atas persetujuan Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta, pada tanggal 12 Mei 1917 didewasakan dengan anggota berjumlah 130 orang dan 80 orang merupakan anggota Sidi.

Dalam perkembangannya tanggal 15 Mei 1917 Majelis mengadakan Rapat bersama Jemaat untuk pemanggilan calon Pendeta, yaitu  Dr. Harrensteins dari Belanda. Karena kesulitan transportasi dan  adanya kecamuk peperangan di Eropa, Dr. Harrensteins tiba di Jakarta  pada 29 September 1918, dan kemudian tiba di Medan pada 10 Oktober 1918.

Pentahbisan Dr. Harrensteins sebagai pendeta, dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 1918 dilayani oleh Pdt. Dr. A.A.L. Rutgers . Pelayanan yang dilakukan oleh Dr. Harrensteins mencakup wilayah Medan, Aceh, Tapanuli, Simalungun, Kisaran/Asahan, Sumatera Barat bahkan sampai Semenanjung Malaya.

"Mengingat pelayanan Pdt. Harrensteins sangat luas dan berat, maka pada tahun 1919 Majelis Gereja memanggil Bp. Dr. J.H. Bavink menjadi tenaga pembantu Pendeta. Namun Pdt. Dr. J.H. Bavink hanya bertugas hingga 1921, karena dipanggil untuk melayani Jemaat di Bandung," Kata Anung.

Akibatnya Pdt. Dr. Harrensteins kembali melayani sendiri hingga  tahun 1923 dan kembali ke Belanda karena kesehatan Ibu Harrensteins tidak memungkinkan tinggal lebih lama di Indoensia. 

(cr4/tribun-medan.com)

Penulis:
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved