Pilkada Serentak

Ramadhan Pohan: Kami Bukan Boneka Eldin

"Kelewatan kalilah. Masa harga Ramadhan Pohan cuma Rp5 miliar?" katanya.

Ramadhan Pohan: Kami Bukan Boneka Eldin
Tribun Medan/Abul Muamar
Ramadhan Pohan berbincang dengan kru redaksi Harian Tribun Medan, di Kantor Harian Tribun Medan, Selasa (18/8/2015). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Abul Muamar

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Bakal calon (balon) Wali Kota Medan, Ramadhan Pohan membantah isu yang menyebut bahwa dirinya dan pasangannya Eddie Kusuma maju pada Pilkada 2015 hanya sekadar sebagai "boneka" untuk calon petahana, Dzulmi Eldin.

Isu yang berkembang, pasangan Ramadhan Pohan-Eddie Kusuma dibayar Rp 5 miliar untuk memenangkan kembali Dzulmi Eldin.

"Kalau saya dibeli, itu tega banget. Tega orang yang ngomong gitu. Saya ini pernah jadi pemred (pemimpin redaksi) lho. Masak seorang pemred dibeli. Pemred itu bukan jabatan sembarangan," ujarnya, saat berdiskusi di Kantor Harian Tribun Medan, Selasa (18/8/2015).

"Ada memang kawan yang bilang, 'Udahlah, Bang. Mungkin mereka mulai panik.' Saya sih enggak peduli. Yang penting jangan pernah kita mengkasari, mencederai lawan. Itu enggak benar. Semoga Allah mengampunkan orang-orang yang seperti itu. Enggak mungkinlah. Pak SBY, Pak Prabowo, Pak Wiranto, memberi amanah kepada saya hanya untuk menaruh boneka di Medan ini. Kelewatan kalilah. Masa harga Ramadhan Pohan cuma Rp5 miliar?," tambah Ramadhan.

Ramadhan menegaskan, dirinya bukan politisi kelas teri. Pengalamannya di DPR RI membuatnya optimistis mampu memimpin Medan.

"Dan lagi pula jam terbang saya sudah di politik nasional. Kita sudah menghadapi beratus triliun APBD. Kalau di Medan paling hanya empat triliun. Walaupun saya bersahaja gini, bukan berarti saya lebih murahan gitu lho. Mudah-mudahan itu bisa clear-lah. Enggak ada lagi lah dibilang itu isu bonekalah," ujarnya.

Menurut Ramadhan, mengambil hati masyarakat Medan tak perlu dengan retorika yang keras. Pendekatan personal diyakininya akan jauh lebih lebih efektif.

"Medan ini, kita tidak perlu berbicara keras, main kasar, ataupun marah-marah. Saya ini bersama Eddie Kusuma ingin membawa perubahan bagi Medan. Kami ini dipertemukan oleh gagasan. Jadi bahwa beliau adalah Gerindra, bahwa dia Buddha, etnis Tionghoa, itu berikutnya. Jangan itu dipikirkan. Kami waktu itu berembuk dari pagi sampai sore. Itu bagi saya itu tanda-tanda chemistry kami," katanya. (amr/tribun-medan.com)

Penulis:
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved