Citizen Reporter

Bertemu Multatuli di Amsterdam

Rumah Multatuli kini dijadikan museum. Terletak di Korsjespoortsteeg 20, Amsterdam, tak begitu jauh dari Centraal Station.

Bertemu Multatuli di Amsterdam
INTERNET
PATUNG Multatuli di Amsterdam 

UDARA musim gugur sudah mulai berembus di Amsterdam, Belanda. Padahal baru pada 21 September yang akan datang, musim gugur di benua biru ini dimulai.

Akhir pekan, di sela-sela kegiatan di Universitas Leiden, saya berkunjung ke rumah Multatuli, penulis terkenal di masa kolonial, yang memiliki nama asli Edward Douwes Dekker. Nama Multatuli berangkat dari bahasa latin, Multa Tuli, yang berarti Saya Sangat Menderita (I have suffered much).

Rumah Multatuli kini dijadikan museum. Terletak di Korsjespoortsteeg 20, Amsterdam, tak begitu jauh dari Centraal Station. Dibutuhkan lebih kurang 10 menit jalan kaki.

Kebetulan sekali, Sabtu dan Minggu (12 s/d 13 September 2015) ini ada banyak sekali kegiatan kebudayaan dalam kerangka Amsterdam Heritage Days. Ada 60 monumen (bangunan bersejarah) yang disarankan untuk dikunjungi dan salah satunya adalah Rumah Multatuli.

Max Havelaar yang ditulis Multatuli adalah bacaan banyak orang di Indonesia. Novel semi biografi yang terbit tahun 1860 ini mengisahkan penindasan kolonial terhadap kehidupan bumi putra lewat pendekatan yang satiris. Di lain sisi, Max Havelaar secara tak langsung memelopori sebuah gaya penulisan baru dalam dunia sastra kolonial dan menggiring pada perubahan mindset pemerintahan kolonial Belanda sesudahnya.

Tidak sulit menemukan rumah Multatuli. Hampir semua orang di Amsterdam mengenal Korsjespoortsteeg. Ini ruas jalan unik. Jalan yang pendek saja, kurang lebih 50 meter yang kedua ujungnya memiliki portal. Hanya ada dua puluhan rumah di kawasan ini.

Rumah Multatuli sendiri tidak terlalu besar. Berukuran 4x10 meter, terdiri dari tiga lantai ditambah sebuah kelder (lantai bawah yang biasanya digunakan sebagai gudang dan tempat penyimpanan makan, minuman, dan bahan kebutuhan lainnya) dan zolder (loteng), khas rumah-rumah orang Belanda. Oleh pihak pengelola, karena kondisi fisik bangunan yang sudah tidak sempurna karena termakan usia, hanya lantai satu dan dua, plus kelder yang dibuka untuk umum.

Kebersahajaan rumah ini makin terasa saat kita memasuki ruangan-ruangannya. Tak ada barang-barang mahal. Ada dua lemari yang dipenuhi buku, beberapa potret Multatuli, istri dan keluarganya. Yang lain adalah sebuah sofa. Sederhana dan tidak mewah, tapi sangat terkenal, karena saat berbaring di sofa inilah Multatuli menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Februari 1887. Waktu itu, sofa ini menjadi bagian dari perabotan rumahnya di Nieder-Ingelheim, Jerman.

Hal lain yang menarik pada rumah ini adalah perpustakaan kecil di kelder. Ada banyak buku, juga meja kerja. Sebelumnya, di atas meja ini terdapat satu unit mesin ketik yang dipakai Multatuli saat menulis esai, artikel, maupun novel-novelnya. Namun saat saya datang, mesin ini sudah tidak ada lagi. Menurut guide yang bekerja di sini, mesin ketik tersebut telah ditempatkan di sebuah musem lain di Belanda. Museum yang mana satu, ia tidak menjelaskan.

Hari itu, pengunjung rumah Multatuli sangat ramai. Ada ratusan orang, tua muda, yang juga mempunyai niat yang sama dengan saya. Pula begitu saat mendatangi Persimpangan kanal Singel yang termasyhur di kota pelabuhan ini, di mana patung Multatuli berdiri.

Tahun 2002, Pemerintah Kerajaan Belanda, melalui Masyarakat Sastra Belanda, menganugerahkannya sebagai salah satu penulis terpenting sepanjang waktu. Patung ini merupakan semacam bentuk pengakuan terhadap dirinya.

Maka di tengah kerumunan banyak orang, saya tak sempat bercakap-cakap dengannya. Saya hanya bisa memandang matanya yang tajam dan kumisnya yang tebal. Mata yang sarat dengan kecintaan terhadap para pribumi yang diisap tenaga dan mimpi hidupnya oleh kekejaman para manajer perkebunan kopi di Lebak, Banten saat itu.

Sebelum larut dalam nostalgia Mooie Indie, saya buru-buru pamit padanya. Tapi saya sudah menyiapkan rencana lain. Saya ingin bersilaturahmi kepada anak gadis yang luar biasa berani, Anne Frank, di Prinsengracht.

Tot ziens, Pak Multattuli.(Edy Ikhsan)

Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help