Perpustakaan Jangan Sekadar Ruang Membaca
"Visi kami membuka perpustakaan sebanyak-banyaknya," kata Samuel.
Penulis: Hendrik Naipospos |
Laporan Wartawan Tribun Medan/Hendrik Fernandes
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, minat baca Indonesia hanya 0.001 persen. Hal ini dinilai Yayasan Cinta Baca bertolak belakang dengan amanat Undang Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa tujuan bernegara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Minat baca Indonesia sangat rendah. UNESCO yang melakukan penelitian ini di tahun 2012, bukan Yayasan Cinta Baca. Faktornya bisa saja karena banyak kondisi perpustakaan di Indonesia yang tidak layak," ujar Koordinator Wilayah Yayasan Cinta Baca Samuel Tarihoran kepada tribun-medan.com di kantornya, Jalan Sunggal, Bumi Seroja Permai Medan, Kamis (16/6/2016).
Menurut Samuel, perpustakaan bukan sekadar ruang membaca bagi anak dan masyarakat.
"Jangan hanya sebagai tempat membaca. Supaya ada daya tarik, perpustakaan harus dikemas sebagai tempat sosialisasi dan rekreasi. Anak-anak pasti menyukainya," ujarnya.
Menurutnya, sejak tahun 2001 Yayasan Cinta Baca sudah mendirikan perpustakaan di berbagai wilayah di Indonesia.
"Yayasan Cinta Baca berdiri pada 14 September 2001 secara nasional. Di Sumatera Utara, tanggal 10 Maret 2009. Hingga saat ini kami ada di tujuh provinsi (Banda Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, dan Papua). Visi kami membuka perpustakaan sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan program ini dapat mencerdaskan kehidupan bangsa," katanya. (cr2/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/anak_baca_20160616_115018.jpg)