Mitigasi Bencana Pada Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba

Sedemikian lama sejak merdeka, potensi yang sedemikan besar sama sekali belum dijamah dan terkesan terabaikan. Kebanggaan dan kecintaan..

Mitigasi Bencana Pada Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba
ist
Manahan Sihotang 

Oleh:
Manahan Sihotang

Masih terasa hangat eforia kegembiraan dari masyarakat Sumatera Utara dan secara khusus masyarakat etnis Batak yang mendiami kawasan sekitar Danau Toba menanggapi rencana pemerintah ingin membangun kawasan ini menjadi sebuah destinasi wisata penting yang bertaraf internasional.

Sedemikian lama sejak merdeka, potensi yang sedemikan besar sama sekali belum dijamah dan terkesan terabaikan. Kebanggaan dan kecintaan akan danau vulkanis yang terbesar didunia ini hanya tertoreh abadi dalam lagu-lagu dan musikbernuansa Batak Toba.

Sangat ironis, keindahan alam, keaneka ragaman budaya, laboratorium alam yang mendunia dan keberadaan bonapasogit yang menjadi perekat marga-marga yang berdiaspora belum membawa manfaat ekonomi yang siknifikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, pembangunan kawasan Danau Toba yang didorong oleh Pemerintah dan didukung oleh semua pemangku kepentingan agar berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di kawasan ini adalah sebuah keniscayaan.

Akan tetapi, semua kegiatan pembangunan disamping membawa manfaat ekonomi juga berpotensi mendatangkan bencana. Untuk itu beberapa aksi-aksi strategis perlu mendapat perhatian agar pembangunan kawasan ini dapat berkelanjutan sebagaimana yang diharapkan.

Kesatuan bentang alam dan budaya kawasan Danau Toba dan prediksi perubahan.

Secara alamiah, kawasan Danau Toba merupakan sebuah bentang alam yang terbentuk dengan beberapa karakteristik alam seperti: dataran tinggi dan pegunungan; daerah aliran sungai dan tangkapan air; iklim sejuk; hutan dataran tinggi basah; dll. Bentang alam ini bersatu erat dengan bentang budaya beberapa sub-etnik Batak yang lahir dan mendiami kawasan ini secara turun temurun.Sejatinya budaya Batak tidak terlepaskan dan dipengaruhi oleh karakter bentang alam kawasan ini.

Interaksi yang erat antara masyarakat etnikBatak dan bentang alamtercermin pada nilai-nilai kesenian, adat istiadat, dan religius.Banyak musikdan lagu Batak yang mengekspresikan penghargaan terhadap keindahan alam, kesejukan iklim, kesuburan tanah, sungai-sungai yang mengalir, dll. Beberapa diantaranya seperti O Tao Toba Nauli, Aek Sibundong, dan Pulo Samosir merupakan contoh lagu yang tidak asing bagi kita. Demikian juga tarian-tarian yang membawa persembahan hasil bumi.

Hampir pada setiap acara adat Batak, ikan mas (dekke na niarsik) selalu diadakan sebagai simbol berkat kehidupan. Ikan masmerupakan fauna yang banyak terdapat di danau Toba, dan habitatnya selalu pada perairan yang bersih. Banyak masyarakat masih mengandalkan penghidupan dari hasil hutan tropis basah dataran tinggi seperti kemenayan, gula enau, dll.

Di samping itu sawah, yang dikelola sebagai sumber pokok kehidupan tetap membutuhkan tersedianya pasokan air yang bersumber dari mata air di daerah pegunungan yang harus dijaga kelestariannya. Buah-buahan dan sayur mayur yang dibudidayakan dalam bentuk kebun campuran, tanaman pekarangan dan ladang masih tetap didukung oleh kemurahan dan keramahan alam menyediakan unsur hara, curah hujan, suhu, kelembaban dan iklim mikro yang dibutuhkan untuk bertumbuh. Hal-hal tersebut menegaskan bahwa terdapat relasi yang sangat erat antara kehidupan masyarakat Batak dengan bentang alam di kawasan Danau Toba.

Halaman
12
Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved