Ngopi Sore

Apa yang Kau Cari di Jakarta, Pak SBY?

Apa yang dicari SBY di (Pilkada) Jakarta? Apakah kemenangan?

Apa yang Kau Cari di Jakarta, Pak SBY?
Presidensby.info/Abror Rizki
Arsip foto saat Lettu Inf. Agus Harimurti Yudhoyono mencium tangan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, di bandara internasional Soekarno - Hatta, Rabu (8/11/2016) petang, sebelum terbang ke Lebanon. 

PERTARUNGAN memperebutkan kursi Gubernur Jakarta semakin seru dan asyik. Seru karena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bakal dapat lawan tambahan. Bukan cuma Sandiaga Uno. Bukan cuma Yusril Ihza Mahendra atau Anies Baswedan yang muncul belakangan. Asyik lantaran isu yang bakal diapungkan tidak lagi sekadar berkutat isu semacam 'Ahok Cina' atau 'Ahok bukan muslim'.

Benarkah demikian? Para petinggi empat partai (Demokrat, PKB, PPP, dan PAN) yang bertemu di Cikeas, menyepakati Agus Harimurti Yudhoyono, putera pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk dimajukan bertarung melawan Ahok.

Kalangan yang masih terpesona pada "gaya" SBY, menyambut kabar ini dengan gegap gempita. Agus Harimurti memang seperti "fotokopi" SBY. Tampan seperti SBY di masa muda. Gestur dan gaya berbicaranya juga "SBY banget", kontras adiknya, Eddhie Baskoro Yudhoyono atawa Ibas yang meski memiliki jabatan tinggi di partai dan parlemen tetap saja lebih sering jadi lelucon, jadi objek perisakan secara nasional. Dia juga punya modal lain: istri cantik yang pernah jadi model dan bintang iklan sampo.

Namun orang-orang yang lebih memahami politik akan mengerutkan kening. Kenapa harus Agus Harimurti?

Dia belum menjadi siapa-siapa di panggung politik nasional. Pengalamannya minim. Jauh tertinggal dibanding Ahok. Pun Sandiaga Uno, yang meskipun baru kali ini menjejak di ranah politik, sebagai pengusaha papan atas Indonesia sudah terbiasa bergaul dengan para politisi.

Agus lebih banyak berkutat di "barak". Dia "lugu" politik dan "awam" birokrasi. Mesti Ramadhan Pohan memujinya setinggi langit dan memberinya gelar sebagai "mutiara" politik, kecurigaan tetap tak dapat dihempang: kemunculan nama Agus Harimurti tidak lepas dari campur tangan SBY. Ambisi SBY.

Pertanyaan paling penting menyeruak. Apa yang dicari SBY di (Pilkada) Jakarta? Apakah kemenangan?

Bertarung di ajang semacam Pilkada tentulah harus mengincar kemenangan. Meski ada orang-orang konyol (atau orang-orang licik?) yang ikut bertarung tapi sebenarnya cuma pura-pura lantaran targetnya adalah mencari "uang mundur", saya kira SBY tidak begitu. SBY tidak butuh uang receh. Terlebih-lebih pengorbanan Agus Harimurti tidak bisa dibilang kecil. Bertarung di Pilkada membuat dia harus menutup karier militer.

Padahal usianya baru 38 dan sekarang pangkatnya sudah mayor. Terlepas dari pengaruh SBY, catatan-catatan prestasi Agus yang cemerlang membuat dia, hampir bisa dipastikan, mulus mendapatkan tanda bintang di pundak. Mungkin malah bisa memecahkan rekor jenderal termuda. Jika tidak ada kejadian luar biasa, Agus Harimurti akan masuk ke dalam kelompok elite yang paling potensial menjadi kandidat untuk bertarung memperebutkan kursi KSAD dan Panglima TNI.

Apakah SBY tidak berhitung-hitung? Apakah SBY tidak bisa melihat bahwa potensi peluang Agus Yudhoyono untuk melewati Ahok dan Sandiaga Uno atau Anies Baswedan sangat kecil? Bahkan sekiranya ada partai yang mengusung Yusril sekalipun dia akan tetap sulit menang. Entah kalau lawannya cuma Ahmad Dhani atau Eko Patrio.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved