Ngopi Sore

Medan yang Gamang: Sekadar Pandangan untuk Eldin dan Akhyar

Gugatan-gugatan ini terkesan nyinyir. Terkesan cuma ingin "meributi", hanya ingin "mengganggu".

Medan yang Gamang: Sekadar Pandangan untuk Eldin dan Akhyar
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pengendara sepeda motor dan mobil berusaha melintasi ruas jalan yang digenangi air di kawasan Jl. KH Wahid Hasyim, Medan, Rabu (28/9). Buruknya saluran drainase menyebabkan sejumlah kawasan di Kota Medan dilanda banjir selepas diguyur hujan lebat selama kurang lebih dua jam. 

"Kita hanya mengenang manusia, dari kota kota, yang ditata kaleng kaleng coca cola"
(Antropologi dari Kaleng kaleng Coca Cola, Afrizal Malna)

KOTA barangkali memang telah bergerak ke alur yang lain. Alur yang makin ke sini makin terang menunjukkan bagaimana hubungan antara ruang, bangunan, dan manusia, tidak boleh lagi dikelola dengan cara-cara yang (melulu) intuitif. Terlebih-lebih tanpa intuisi. Sebab jika demikian, apabila dianalogikan mahluk hidup (manusia atau binatang), maka kota akan menjelma tubuh bernyawa tanpa kepala: mayat hidup.

Ruang, bangunan, dan manusia di kota, tanpa dapat dicegah, tumbuh dan berkelindan dalam anutan waktu yang serba ketat dan menempatkannya pada situasi-situasi yang seringkali menjengkelkan dan tidak logis. Kenyataan yang -mau tidak mau- mengharuskan manusia: masyarakat/warga/kaum urban, untuk kerap memperbarui kemampuan dalam membawa diri, dalam beradaptasi.

Dengan kata lain, proses dan hasil perkelindanan atau persenyawaan tidak berlangsung mulus, karena di antara ketiga unsur ini, manusia tetap terposisikan paling tidak menguntungkan.

Manusia kota bukan cuma dihadapkan pada rutininas-rutinitas yang semakin menjemukan dan (juga) semakin menyiksa. Bukan sekadar dicekoki fakta-fakta dan mimpi yang sama-sama mengerikan. Lebih jauh juga terus-menerus berada di bawah ancaman untuk termarginalkan dan teralienasi di dalam pusaran permainan modal para kapitalis yang bermain mata dengan pemangku-pemangku dan pelaksana kebijakan.

Memang benar tak ada kota yang selamat. Tidak ada kota yang sempurna di dunia. Tak terkecuali Melbourne, Wina, atau Vancouver -kota-kota yang tahun ini kembali dinobatkan sebagai kota paling aman dan nyaman untuk menjalani hidup. Namun di lain sisi, ada banyak kota yang dengan pendekatan dan metode-metode tertentu, mampu meminimalisir kekacauan, sehingga paling tidak dapat mengurangi dampak kerusakan.

Sayangnya Medan tidak. Bahkan lebih parah. Sampai menginjak usia 426 (berangkat dari tanggal 1 Juli 1590 yang belakangan disangsikan), Medan justru makin mengarah ke penggambaran yang dikemukakan Afrizal Malna dalam puisinya yang lain, Mantel Hujan Dua Kota: "kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah".

Kota yang rapuh dan gampang roboh. Kota yang mulai (atau sudah?) tercerabut dari sejarah dan akar budayanya. Kota dengan identitas yang samar-samar. Kota dengan arah tuju yang juga tak jelas benar.

Akhir-akhir ini banyak warga Medan menuliskan kritik-kritik yang keras di media sosial. Dinding-dinding Facebook dan Twitter, bahkan Path dan Instagram, riuh oleh celoteh yang menggugat kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin dan Akhyar Nasution. Slogan 'Medan Rumah Kita', diubah, dipeleset-pelesetkan. Dua yang paling banyak mendapat "sambutan" adalah 'Medan Bukan Rumah Kita' dan 'Medan Rumah Siapa'.

Sekilas pintas, gugatan-gugatan ini terkesan nyinyir. Terkesan cuma ingin "meributi", hanya ingin "mengganggu", bahkan barangkali ada yang memandangnya sebagai upaya pendongkelan terhadap eksistensi pejabat-pejabat Pemerintah Kota Medan, terutama sekali wali kota dan wakil wali kota.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved