Ngopi Sore

Anies Baswedan di Mata Jonru

Dalam politik, sikap-sikap yang ditunjukkan Adian dan Ruhut sebagaimana Anies, adalah kewajaran belaka. Jonru menunjukkan inkonsistensi serupa.

Anies Baswedan di Mata Jonru
kolase/klikbontang.com-Facebook

TENTU saya tidak perlu lagi menjelaskan siapa Anies Baswedan. Bahkan saya pun semestinya tak perlu menjelaskan siapa Jonru. Sekarang era gawai. Era internet cepat dan media sosial. Sungguh kelewatan jika Anda tidak tahu siapa Jonru.

Tapi mengingat bahwa ternyata bahkan ada yang tidak tahu siapa Jokowi, asumsi tadi saya kantongi. Saya memang harus curiga bahwa memang ada di antara Anda yang tidak mengenal mereka.

Anies Baswedan mantan Menteri Pendidikan. Sebelumnya, dia Rektor Universitas Paramadina dan penggagas dua gerakan yang punya puluhan ribu pengikut: Gerakan Turun Tangan dan Gerakan Indonesia Mengajar. Dia juga pernah ikut konvensi nasional yang diselenggarakan Partai Demokrat dan dikalahkan Dahlan Iskan.

Jonru? Nama ini adalah akronim Jon Riah Ukur. Dalam bahasa Karo bermakna 'hati yang gembira'. Siapakah dia? Seorang pewawancara televisi lokal berbasis internet menyebutnya sebagai aktivis media sosial. Jonru juga menerbitkan sejumlah buku. Di antaranya berjudul Cinta Tak Terlerai, Cowok di Seberang Jendela, Menerbitkan Buku Itu Gampang!, dan Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat. Iya, dia penulis buku. Tapi Jonru tidak terkenal lantaran buku yang ditulisnya, melainkan lewat tulisan-tulisannya di Facebook. Mula-mula tulisan mengenai agama, terutama terkaitpaut kisah-kisah mualaf dan pertobatan. Lalu pelan-pelan bergeser ke politik.

Jonru sudah jadi perhatian banyak pengguna Facebook sejak Pemilu Kepala Daerah Jakarta 2012 dan berlanjut dan mendapatkan popularitasnya di Pemilu Presiden 2014, di mana dia secara terang-terangan memihak Prabowo dan kontra Jokowi. Kontra yang sangat keras. Begitu kerasnya sehingga seringkali jadi pukulan bagi dirinya sendiri. Jonru dituding sebagai tukang kibul, penyebar fitnah, penebar kebencian.

Pertanyaannya, apa hubungan Anies dan Jonru? Pilkada Jakarta. Setelah dicopot dari kursi menteri dia kembali ke gelanggang politik, bertarung untuk perebutan kursi Gubernur Jakarta. Dia diusung Partai Gerindra dan PKS. Partai-partai, dan orang-orang di dalamnya, yang pada Pemilu Presiden lalu berseberangan kubu dengan Anies.

Aneh bin ajaib? Sama sekali tidak. Tak ada yang aneh ketika seseorang berganti kubu. Tak ada yang ajaib tatkala setelah berganti kubu kemudian mengemuka komentar-komentar dan pernyataan-pernyataan yang bertolakbelakang dengan sebelumnya. Buruk jadi baik, baik berubah buruk. Sama sekali tak aneh. Sama sekali tak ajaib. Itulah politik.

Jonru pun demikian. Dia tidak terlalu jauh berbeda dengan Adian Napitupulu dan Ruhut Sitompul, misalnya. Sebelum dan sesudah PDI Perjuangan menyatakan dukungan terhadap Ahok, sikap Adian berubah secara kontras. Semacam dari benci jadi cinta.

Ruhut lebih "istimewa". Kita tahu bagaimana dulu dia selalu menyebut SBY negarawan sejati. Sebagai "suporter garis keras" dia tak gentar melakukan apa saja untuk membela dan melindungi SBY. Termasuk menyerang lawan-lawan politik SBY. Siapa saja tak terkecuali Jokowi.

Tapi Ruhut politisi pintar yang piawai membaca arah angin. Tidak seperti Adian yang kerap menyerang dengan amat brutal, serangan-serangan Ruhut lebih apik, licin, terencana, dan "berseni" tinggi. Serangan yang tidak pernah sampai membekaskan dendam kesumat bagi pihak yang diserang. Ini yang senantiasa membuat Ruhut "selamat". Dia selalu bisa melompat di saat yang tepat dan menemukan pijakan baru yang sama kokohnya.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved