Ngopi Sore

Dimas Kanjeng Sri Raja Prabu David Copperfield

Apakah mereka tidak pernah menimbang bahwa uang yang digandakan akan memiliki nomor seri yang sama dan uang seperti itu tak dapat digunakan?

Dimas Kanjeng Sri Raja Prabu David Copperfield
eskipaper.com
ILUSTRASI DAVID COPPERFIELD 

MALAM kemarin saya menonton ILC, dan sepanjang bisa saya ingat, inilah satu-satunya ILC yang membuat saya berkali-kali gagal menahan tawa. Padahal ini ILC yang sebenar-benarnya ILC. Bukan program parodi yang dibesut komedian Denny Chandra itu.

Sekali lagi. sebenar-benarnya ILC. Indonesia Lawyer Club, acara bincang-bincang yang dipandu wartawan kawakan, Karni Ilyas. Tidak ada pelawak di sana. Tidak ada Komeng. Tidak ada Jarwo Kwat. Tidak ada Cak Lontong. Pebincang diundang di ILC umumnya adalah "orang-orang serius". Ada pejabat negara, ada politisi pengurus partai politik, ada tokoh masyarakat, ada ahli hukum, ada aktivis berbagai bidang, akademisi berbagai bidang, ada budayawan.

Lalu kenapa saya tertawa? Apakah karena ada kelucuan? Bagi saya demikian. ILC malam kemarin membahas kontroversi terkait seorang lelaki bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sebenarnya dia dilahirkan pada 28 April 1970 sebagai Taat Pribadi saja. Nama Dimas Kanjeng sekadar tambahan. Januari 2016, Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia memberinya gelar Sri Raja Prabu Nagara. Gelar kebangsawanan yang prestisius. Gelar yang konon hanya pernah disandang raja terbesar Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk.

Sebegitu luar biasakah Dimas Kanjeng sehingga disejajarkan dengan Hayam Wuruk? Apakah dia juga memiliki kemampuan sebagai pemimpin dan penakluk? Saya tidak tahu. Pastinya, paling tidak dari rekaman-rekaman video yang beredar di media sosial, dia terkesankan memiliki dua "keistimewaan": menggandakan uang dan menjadi penasihat spiritual.

Dan atas "keistimewaan" ini, yang telah dipraktikkannya selama bertahun-tahun, Dimas Kanjeng tak hanya mendapatkan kekayaan, tetapi juga popularitas dan pengikut yang jumlahnya tidak sedikit.

Para pengikut inilah yang malam kemarin hadir di ILC dan melakukan upaya-upaya pembelaan terhadap Dimas Kanjeng. Pembelaan-pembelaan, yang saking keras dan ngototnya, jadi terasa sungguh-sungguh mengharukan.

Seorang di antara pembela ini adalah Marwah Daud Ibrahim. Nama yang kesohor. Sejak bertahun-tahun lalu Marwah dikenal sebagai politisi Partai Golkar dan pernah berkantor di Senayan selama 15 tahun. Namanya melejit sebagai politisi yang diperhitungkan setelah terlibat persiteruan yang sengit dan terbuka dengan Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar kala itu.

Marwah Daud seorang intelektual. Seorang cendekia. Gelar akademiknya berderet-deret. Dia doktor lulusan universitas papan atas di Amerika Serikat. Atas intelektualitas dan kecendekiaannya, Marwah Daud didapuk masuk ke dalam organisasi elite bentukan BJ Habibie, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Marwah Daud Ibrahim membela Dimas Kanjeng dalam kapasitasnya sebagai ketua padepokan milik Dimas Kanjeng. Sebelum tampil di ILC, Marwah Daud menjadi orang yang paling ngotot menyebut pandangan orang-orang terhadap Dimas Kanjeng merupakan pandangan keliru. Menurut dia, Dimas Kanjeng benar-benar lelaki penuh karomah, yang lewat tangannya bisa melakukan keajaiban-keajaiban. Tak terkecuali menggandakan uang.

Marwah Daud bersaksi, dia melihat sendiri bagaimana Dimas Kanjeng melakukan aksi penggandaan, lalu memberi bukti berupa rekaman video di youtube yang sebelumnya sudah dilihat banyak orang dan jadi tertawaan lantaran tiada berbeda dari teknik sulap amatir. Teknik yang belum terlalu piawai pula. Jika dihadapkan bermuka-muka dengan David Copperfield, maka perbandingannya adalah ibarat langit dengan lapisan paling dalam dari tanah Papua yang emas-emasnya sudah diangkut Freeport ke Amerika.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved