Ngopi Sore

Dua Tahun Jokowi: Mencintai dan Membenci

Jokowi tidak tampil utuh. Hanya tampak samping. Mengenakan jaket hitam yang retsleting-nya dibuka sampai bagian dada. Dia melambaikan tangan.

Dua Tahun Jokowi: Mencintai dan Membenci
FACEBOOK

TERHITUNG sejak menulis perihal Joko Widodo pada hari ke 365 menjadi Presiden Republik Indonesia, saya telah merencanakan untuk menulis lagi pada hari ke 730. Kenyataannya saya baru menuliskannya pada hari ke 731. Menuliskannya setelah sempat berniat untuk tidak melakukannya.

Kenapa? Saya merasa betapa hal-hal terkaitpaut tahun kedua Jokowi ini sudah jadi perbincangan yang kelewat riuh. Sudah terlalu banyak yang mengemukakan pandangan. Mulai dari pandangan yang jernih sampai yang butek belaka. Yang mengedepankan argumentasi berdasarkan telaah fakta dan data, hingga yang sekadar mencecarkan unek-unek, melampiaskan kekesalan, dan merayakan kegusaran atas pertimbangan ketidaksukaan yang berangkat dari berbagai faktor, termasuk dendam kekalahan.

Pandangan-pandangan yang membentuk dua kelompok besar: (1) Mencintai Jokowi; dan (2) Membenci Jokowi.

Akan halnya kenapa saya pada akhirnya memutuskan menulis, adalah disebabkan oleh secarik foto yang diambil dari Papua dan disebarluarkan melalui Facebook. Secarik foto tanpa kata-kata. Hanya gambar.

Bertahun-tahun saya melewatkan jatah hidup dengan bekerja sebagai fotografer. "Pura-puranya" memotret untuk lebih mengenal hidup, mempelajari hidup dan kehidupan lalu menafsirnya, padahal sebenar-benarnya memang sekadar untuk hidup --lantaran dari foto-foto yang dihasilkan itu saya mendapat uang untuk makan dan dengan begitu saya bisa terus menghirup O2 dan mengembuskan CO2, satu-satunya ritual yang masih gratis di atas bumi pengasingan yang terkasih ini.

Meski "pura-puranya" demikian, tentulah, sedikit banyak ada pelajaran yang tertinggal. Setidak- tidaknya pelajaran untuk bisa membedakan mana foto yang mengandung pesan jujur dan mana yang ngibul.

"Semua foto adalah mendua. Semua foto dicomot keluar dari kontinuitas, menjadi diskontinuitas, dan diskontinuitas ini memproduksi kemenduaan," tulis Seno Gumira Ajidarma dalam tesisnya yang kemudian diterbitkan sebagai buku: Kisah Mata, Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan Tentang Ada.

Setiap foto, sebut Seno pula, menyampaikan dua pesan, yakni pesan menyangkut peristiwa yang dipotret, dan menyangkut sentakan diskontinuitas. Di antara momentum terekam dan momen kini (ketika melihat foto), terdapat sebuah jurang. Ini membuat tiap-tiap foto memiliki pesan kembar yang satu sama lain saling bertolak belakang, tergantung bagaimana memaknai dan menafsir sifat penampakannya. Ini pula yang membuat tiap-tiap foto ditakdirkan untuk tak dapat menipu, secanggih apapun direkayasa.

Rumit? Sebenarnya tidak. Sebenarnya sederhana. Karena yang dibutuhkan cuma kejujuran. Bagaimana menepiskan segala macam dan segala bentuk syakwasangka dan curiga tatkala melakukan pemaknaan dan penafsiran.

Di antara presiden-presiden Indonesia, barangkali, Jokowi terbilang presiden yang paling sering difoto. Barangkali hanya kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di antara foto-foto ini, tentu saja, ada foto yang ngibul. Foto-foto yang direkayasa, dimanipulasi, untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved