Ngopi Sore

4 November: Ujian untuk Indonesia

Saat negara-negara lain, bangsa-bangsa lain, melaju makin kencang, waktu dan perhatian kita tersita untuk membangkitkan diri dari kehancurleburan.

4 November: Ujian untuk Indonesia
ANTARA/IRSAN MULYADI
SEORANG remaja menggunakan ikat kepala saat ikut berunjuk rasa mengecam Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Medan, Sumatra Utara, Jumat (14/10). 

JELANG pemilihan Gubernur Jakarta 2017 situasi politik di Indonesia memanas. Silang sengkarut "pertempuran" melesat ke bidang dan sendi kehidupan lain di negeri ini. Lantas memengaruhi dengan sangat kuat.

Satu di antara lesatan tersebut mewarnai kehidupan kita di hari-hari belakangan. Kita di sini adalah seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkoneksi dengan kabar-kabar dari Jakarta (lewat media apapun).

Di Medan, di Sabang, di Marauke, atau di manapun yang dapat mengakses kabar-kabar paling anyar perihal pemilihan Gubernur Jakarta. Ajang ini, suka tidak suka, ternyata memang sudah tidak lagi terbatas pada kepentingan warga Jakarta.

Semestinya ini jadi perkembangan menggembirakan. Setidak-tidaknya menunjukkan betapa politik sudah tak lagi eksklusif milik kelompok-kelompok tertentu. Politik sudah memasyarakat layaknya sepakbola dan musik dangdut.

Namun sayangnya, makin ke sini, yang makin menyeruak justru kekhawatiran. Bukan kecerdasan. Melainkan ancaman yang potensial sangat pahit. Politik di Jakarta, makin ke sini, menjelma ajang untuk menguji keindonesiaan.

Tanggal 4 November 2016 digadang ribuan orang dari sejumlah kelompok mengatasnamakan agama (Islam) akan menggelar unjuk rasa di Jakarta --dan beberapa daerah lain di indonesia. Mereka hendak mendesak pemerintah pusat dan kepolisian menangkap kandidat Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, atas tudingan melakukan penistaan agama.
Berunjukrasa tentu saja tak salah. Berunjukrasa, mengemukakan pendapat, merupakan perwujudan dari demokrasi. Persoalannya adalah, sejak jauh hari, kelompok-kelompok yang berunjukrasa telah menebar semacam ancaman. Bahwa jika Ahok tidak ditangkap, tidak diadili, maka mereka yang akan melakukannya.

Padahal kita juga tahu bahwa menangkap dan mengadili tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang dan sembarang lembaga.

Polisi telah bersiap. Tentara juga sudah bersiaga. Di pihak pengunjukrasa, kesiapsiagaan serupa menyeruak. Mereka disebut-sebut mengklaim sudah mencium wangi surga di Jakarta. Mereka sudah menuliskan surat wasiat untuk keluarga. Mereka sudah siap mati.

Ah, kenapa harus begini? Apakah kita memang menginginkan perpecahan? Apakah kita memang menginginkan negeri raksasa ini berubah awut-awutan, ambruk dan porak-poranda macam negara-negara di Balkan dan Timur Tengah? Apakah kita memang sudah bosan mencium aroma kedamaian dan lebih mendambakan bau anyir darah?

Mari kita kembali ke dasar negara. Kembali ke Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh berbeda pandangan, berbeda pilihan, berbeda suku, agama, dan lainnya, tetapi kita satu negara, satu bangsa, satu tujuan, yaitu Indonesia yang lebih kuat. Indonesia lahir dari keberagaman.

Halaman
12
Penulis: Abdi Tumanggor
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved