Ngopi Sore

Pak SBY dan Lebaran Kuda

SBY merasa perlu untuk menyampaikan langsung "curhat" tersebut lewat perantara stasiun-stasiun televisi.

Pak SBY dan Lebaran Kuda
ANTARAFOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
KETUA Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar jumpa pers di kediamannya di Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (02/11/2016). Presiden keenam RI itu menyampaikan berbagai isu terkini, antara lain menanggapi rencana unjuk rasa pada 4 November 2016 mendatang, mengenai Pilkada Jakarta dan juga kasus TPF Munir. 

RABU, 2 November 2016, melayangkan ingatan ke hari-hari pada sepuluh tahun masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selama sepuluh tahun itu, yakni dua periode pemerintahan, SBY dalam kapasitasnya sebagai presiden, begitu sering muncul di televisi.

Dia berbicara, menjadi penampil tunggal untuk menyampaikan pidato atau pandangan menyangkut berbagai persoalan bangsa, entah itu yang berkaitpaut sosial, politik, pertahanan keamanan, atau sekadar mengemukakan unek-unek, "curhat".

Perihal "curhat", dengan terlebih dahulu memohon maaf lantaran sama sekali tidak bermaksud menghina, saya ingin bilang bahwa beliau boleh dimasukkan ke dalam kategori pakar. Dan statusnya sebagai presiden membuat SBY tidak tertandingi untuk satu perkara: kesempatan curhat di depan kamera dan dipancarluaskan ke seluruh penjuru Indonesia.

Setelah tidak lagi menjabat presiden, tentu saja previlege ini, hak istimewa ini dicabut darinya. Namun SBY secara cerdik beralih ke media lain. Media sosial. Tepatnya, laman microblogging yang populer di kalangan masyarakat kota dan --khususnya-- eksekutif dan kaum intelektual muda, Twitter. Di akun miliknya (@SBYudhoyono) yang diikuti 9,36 juta pengguna Twitter, nyaris saban hari, SBY menuliskan cuitan.

Satu cuitan adalah satu kalimat sepanjang maksimal 140 character. Dan total, hingga Rabu petang, akun ini mencatat 4.497 cuitan. Ada yang berupa pernyataan, pandangan politik, nasihat, bahkan doa-doa. Tatkala praperadilan kasus dugaan korupsi Komisaris Jenderal Budi Gunawan mencapai puncak, misalnya, SBY memampangkan serangkaian doa yang mengharukan. Doa yang mengungkapkan keresahan dan memohon keselamatan.

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Pemimpin, bangsa dan negara kami tengah Engkau uji sekarang ini. Tolonglah kami. *SBY*"

Umumnya cuitan-cuitan SBY memang berupa serial. Kalimat per kalimat merupakan satu pokok pikiran yang sambung-menyambung. Paling anyar, serial cuitannya berisi "curhat" tentang kasus pembunuhan Munir dan Pemilihan Gubernur Jakarta. SBY merasa dirinya disudutkan, merasa difitnah oleh pihak-pihak tertentu yang ingin meruntuhkan reputasinya dan reputasi puteranya, Agus Harimurti Yudhoyono, yang sekarang menjadi kandidat Gubernur Jakarta.

SBY ingin menyampaikan bahwa dirinya menjadi "korban" konspirasi besar. Menurut SBY, sewaktu menjabat Presiden Republik Indonesia, dia sama sekali tidak pernah ingin melambat- lambatkan, apalagi sengaja menepikan hasil kerja dan rekomendasi Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir. Menurut SBY, pihaknya saat itu tetap bekerja dan melaksanakan rekomendasi itu.

Soal Pemilihan Gubernur Jakarta, curhat SBY tidak kalah "menyayat". Bilangnya, adalah fitnah sangat keji yang menyebut dirinya, kelompoknya, berada di belakang ribut-ribut aksi mendongkel Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, kandidat petahana yang sedang dihantam kasus dugaan penistaan agama. SBY membantah dirinya, kelompoknya, memberikan sokongan dana kepada para pentolan pengunjukrasa.

Dengan pengikut 9,36 juta, paling sedikit "curhat" SBY akan dibaca oleh separuh daripadanya. Cukup besar. Tetapi agaknya, bagi SBY, masih jauh dari kata memadai. Maka SBY merasa perlu untuk menyampaikan langsung "curhat" tersebut lewat perantara stasiun-stasiun televisi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved