Ngopi Sore

Menyangsikan Keimanan Buya Syafi'i Maarif

Bagaimana mungkin ada orang yang terpelajar dapat mengambil kesimpulan yang demikian terburu-buru dan gegabah pula?

Menyangsikan Keimanan Buya Syafi'i Maarif
Int
AHMAD Syafi'i Maarif 

SEORANG kawan yang saya pernah pahami betul bagaimana kelakuannya, baik dalam keseharian maupun dalam bekerja, yang lantaran memalukan sebaiknya memang tak perlu saya papar di sini, tiba-tiba menjelma seorang penafsir.

Tak tanggung-tanggung, yang ditafsirnya adalah kadar keimanan dua orang selama bertahun- tahun dikenal sebagai cendikiawan muslim, yang bukan saja punya nama besar di Indonesia tapi juga di hampir seluruh penjuru dunia: Muhammad Quraish Shihab dan Ahmad Syafi'i Maarif.

Lebih luar biasa, dia menafsir kedua profesor tersebut dari tafsirnya terhadap Surah Al Maidah 51, yang tentu saja berkaitpaut dengan celoteh Basuki Tjahaja Purnama dan Pemilihan Gubernur Jakarta.

Kawan ini, menyebut Ustaz Quraish dan Buya Syafi'i Maarif sebagai orang-orang munafik dan tidak berilmu, lantaran keduanya berpendapat tak ada penistaan agama di dalam kasus "tafsir-menafsir" yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atawa Ahok saat yang bersangkutan berbicara dalam acara sosialisasi kerja Pemerintah Provinsi Jakarta di hadapan warga Kepulauan Seribu, beberapa bulan lalu.

Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab (Tribunnews)

Baca: Film Tentang Syafii Maarif Ini Raih Penghargaan Bergengsi di Las Vegas

Saya tidak ingin masuk ke perkara tafsir-menafsir. Itu wilayah yang --hemat saya-- cuma bisa dan layak dimasuki oleh orang-orang yang benar-benar memiliki kompetensi dalam menafsir.

Yakni orang-orang yang memiliki dan menguasai dan (betul-betul) memahami Ulumul Quran, atau lebih khusus Ushul Tafsir, ilmu-ilmu tentang Al Quran, bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh lewat baca-bacaan "terjemahan" yang dipampangkan di Google.

Saya pernah belajar Ulumul Quran dan Ushul Tafsir sedikit-sedikit. Tapi lantaran cuma sedikit, saya memilih untuk memandang dari sudut yang lain saja. Sudut nalar dan hubungannya dengan timbang-menimbang dalam mengemukakan kesimpulan, dan dari sudut ini, kawan tadi jadi terlihat begitu mengerikan. Lebih mengerikan, karena dia tidak sendiri.

ahok
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali diperiksa penyidik terkait kasus penistaan agama di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (7/11/2016).

Baca: Ahok Lebih Pilih Dipenjara Dibanding Mundur dari Pilkada

Sepengetahuan saya saja, ada puluhan yang seperti dia. Dan yang puluhan ini secara membabi buta menyerang tidak cuma Ustaz Quraish dan Buya Syafi'i, melainkan juga Said Aqil Siroj dan Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dua kyai Nahdhlatul Ulama (NU).

"Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jangan kita memuji orang tapi dengan menjatuhkan atau menghujat orang lain. Emosi di hati jangan sampai menciptakan kebencian yang berlebihan, itu pasti akan memunculkan masalah, seperti yang terjadi sekarang ini di mana umat sudah terpancing membenci Ahok yang berlebihan," kata Gus Mus, mantan Rois Syuriah NU.

Baca: Said Aqil Sebut Gus Dur Pernah Doakan Prabowo Jadi Presiden

Dan beliau dicecar sebagai ulama yang tidak teguh pendirian, tidak membela Islam, bukan pejuang Islam. Dan di media sosial, terutama Facebook, beredar meme-meme yang selintas terkesan kritis dan (inginnya) pintar, tapi sebenarnya dungu.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved