Ngopi Sore

Ahok Tersangka, Dan Damailah Indonesia . . .

Yang tidak bisa, tidak boleh, keterlanjuran tadi jangan sampai berlanjut untuk lima tahun berikutnya.

Ahok Tersangka, Dan Damailah Indonesia . . .
TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/LENDY RAMADHAN
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). 

BERBULAN lalu, jika tidak keliru ingat berselang satu atau dua minggu setelah Basuki Tjahaja Purnama atawa Ahok, memastikan mengikuti persaingan menuju kursi Gubernur Jakarta pada Pemilu Kepala Daerah 2017, saya menemukan kalimat ini di Facebook.

"Memilih Ahok berarti lebih takut kepada Ahok daripada Allah SWT"

Di bawah kalimat ini ada kalimat lain dalam Bahasa Arab: "Wa La tatakhidzu min dunil mu'minina awliya". Satu potongan dari Surah Al Maidah Ayat 51, yang apabila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kurang lebih akan bermakna, "Janganlah kamu mengambil orang kafir sebagai pemimpin."

Potongan Al Maidah Ayat 51, sekali lagi seingat saya, sudah kerap dimunculkan untuk menohok Ahok sejak yang bersangkutan menjadi calon Wakil Gubernur Jakarta pada Pemilu 2012. Ketika itu, meski Joko Widodo (Jokowi) beragama Islam, para penyeru Al Maidah Ayat 51 mengkhawatirkan satu kemungkinan: jika Jokowi jadi presiden, maka Ahok yang akan naik jadi gubernur. Kekhawatiran yang kemudian memang terwujud.

Keterlanjuran ini, atas nama undang-undang dan hukum negara, tentu saja harus diterima. Yang tidak bisa, tidak boleh, keterlanjuran tadi jangan sampai berlanjut untuk lima tahun berikutnya. Maka langkah-langkah penghempangan pun dilakukan. Satu di antaranya, tentu saja, lewat potongan Al Maidah Ayat 51.

Efektifkah? Pada dasarnya tidak terlalu. Sebelum Ahok sendiri, yang entah lantaran sudah terlalu panas hatinya, atau entah sudah terlalu gusar dan tak mampu lagi menahan sabarnya, atau entah karena memang kelewat percaya diri, melakukan upaya tangkal yang sungguh gegabah. Upaya tangkal yang sama sekali tidak cerdas. Dan akibatnya jelas. Tangkal itu menjerat lehernya sendiri.

Sadar dirinya limbung, Ahok buru-buru melontar maaf. Bukan sekali dua. Melainkan berkali- kali. Bahkan di setiap kesempatan baik saat ada kamera wartawan maupun tidak (meski yang tidak ini pun akhirnya sampai ke telinga wartawan dan jadi berita juga).

Upaya Ahok sia-sia. Maafnya sia-sia. Tiada maaf bagi Ahok. Tudingan untuknya dikristalkan: Ahok menista agama. Menghina Al Quran, menghina Rasulullah, menghina Islam. Betul-betul gawat. Dan atas ini, dua kali aksi unjuk rasa bertajuk 'Bela Islam' digelar. Unjuk rasa terakhir, yang digelar serentak di seluruh Indonesia, diikuti satu jutaan orang.

Tujuan aksi yang berlangsung aman damai ini --setidaknya sampai kelompok-kelompok massa yang dungu dan kampungan mengacau setelah aksi berakhir-- adalah mendesak pemerintah untuk bersikap tegas. Lakukan penindakan hukum terhadap Ahok. Polisi mesti memeriksa Ahok dan Presiden Jokowi jangan membela Ahok.

Tuntutan terpenuhi. Ahok diperiksa. Dia dipanggil polisi dan dimintai keterangan. Kemudian, giliran saksi-saksi. Polisi menghadirkan belasan saksi dari pihak pelapor dan terlapor, selain saksi-saksi dari kepolisian sendiri tentunya. Dan hasilnya, lewat pertimbangan yang sangat demokratis --sebagaimana disebut Kabareskrim Komjen Ari Dono: "Diraih kesepakatan meskipun tidak bulat didominasi oleh pendapat yang menyatakan bahwa perkara ini harus diselesaikan di pengadilan terbuka"-- Ahok ditetapkan sebagai tersangka.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved