Ngopi Sore

Pak SBY, Maaf, Pak Jokowi Itu Bukan Penggemar Lagu Pop Menye-menye

Apakah artikel SBY memang tidak penting atau tidak menarik sehingga Jokowi memutuskan untuk tidak membacanya?

Pak SBY, Maaf, Pak Jokowi Itu Bukan Penggemar Lagu Pop Menye-menye
KOMPAS.COM
SUSILO Bambang Yudhoyono 

SELAMA 10 tahun menjadi Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghasilkan lebih dari 40 lagu yang dikumpulkan dalam lima album. Sebagian besar lagu tersebut bergenre pop manis, melodramatis, dan melankolis. Pop yang termehek-mehek. Pop yang pernah disebut cengeng oleh Harmoko. Istilah anak sekarang, pop menye-menye, pop manja, yang berpanjang-panjang berbusa-busa cuma untuk menyampaikan satu perkara: betapa besarnya rasa cinta.

Entah lantaran pengaruh lagu-lagu yang ditulisnya, kemelodramatisan dan kemelankolisan SBY terbawa-bawa ke banyak hal. Misalnya, SBY berdoa di Twitter. Padahal sebagai seorang jenderal, politisi senior dan presiden dua periode, sangat kecil kemungkinan SBY tidak tahu bahwa Tuhan tak punya akun Twitter sehingga tak dapat me-retweet apalagi menuliskan balasan lewat Direct Messages.

Dia juga sering curhat ke mana-mana. Mengeluh ke mana-mana. Saat melakukan tur keliling Jawa tempo hari, SBY melontarkan banyak kritik kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan secara menakjubkan bilang bahwa dirinya dirindukan. "Banyak yang rindu dan bilang, I want SBY back."  

SBY
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono berbicara mengenai situasi politik terakhir dalam konferensi pers di kediamannya Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Rabu (2/11/2016). (Iwan.K/Situs Demokrat.or.id/ Kompas.com)

Baca: SBY Sudah Mancing-mancing, Tapi Belum Juga Dipanggil ke Istana

Hari-hari belakangan ini, curhatan dan keluhan SBY melesat-lesat lagi. Gelombang kritik mengalir makin deras darinya. Di koran-koran, majalah, di radio, di televisi, SBY berbicara. Terutama menyangkut selentingan yang menyebut dirinya sebagai satu di antara pihak yang berada di belakang aksi unjukrasa Anti Ahok (Basuki Tjahaja Purnama).

Namun ajaibnya, SBY yang curhat, mengeluh, dan melontar kritik, Jokowi malah menemui Prabowo Subiyanto. Malah sampai dua kali. Kemudian berturut-turut Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, Setya Novanto, dan sejumlah ketua umum partai politik. Tapi tidak SBY. Undangan Jokowi, paling tidak sampai sejauh ini, belum pernah sampai di Cikeas. Jokowi pun hanya tersenyum tiap kali ada wartawan yang iseng menanyakan kapan dia akan bertemu SBY.

Entah berhubungan entah tidak, curhat SBY berlanjut, dan makin dahsyat pula. Kali ini dia tak sekedar omong. Dia menuliskannya dalam bentuk artikel. 

Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Foto dokumentasi/ Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca: Prabowo-Jokowi Diharapkan Tidak Seperti Megawati-SBY

SBY mengawali tulisannya dengan paparan perihal kasus Ahok. Kasus yang menurut dia 'semula kecil' tapi jadi besar karena penanganan pemerintah yang tidak tepat. Dalam situasi yang acak-kadut seperti ini, SBY menyodorkan dirinya untuk membantu.

"Secara moral saya wajib menjadi bagian dari solusi. Akan menjadi baik jika saya ikut menyampaikan pandangan dan saran kepada pemimpin kita, Presiden Jokowi, agar beliau bisa segera mengatasi masalah yang ada saat ini. Namun, lebih dari tiga minggu ini memang saya memilih diam."

Kalimat-kalimat yang kontradiktif. Ingin membantu namun justru memilih diam. Kenapa? SBY punya alasan. Yakni menghindari fitnah. "SBY dituduh membiayai Aksi Damai 4 November 2016, saya diserang dan "dihabisi" tanpa ampun. Tetapi, mengamati situasi yang berkembang saat ini, saya pikirkan tak baik jika saya berdiam diri."

Lagi-lagi kalimat yang kontradiktif. Kalimat yang seolah menunjukkan keragu-raguan. Mau, tidak mau, lalu mau.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help