Ngopi Sore

Iwan Fals yang Ternistakan

Sepanjang 41 tahun berkarier, tidak sekalipun Iwan Fals pernah tergoda untuk terlibat dalam politik praktis. Dia mengambil jarak dari politik.

Iwan Fals yang Ternistakan
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
AKSI PANGGUNG - Iwan Fals tampil pada konser bertajuk 'Perayaan Karya Iwan Fals' di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (3/9/2016). Konser ini merupakan perayaan ulang tahun Iwan Fals yang ke-55. 

POLITIK menye-menye di Indonesia makin ke sini makin gawat dan mengerikan. Betul-betul sudah sampai pada tahap mencemaskan. Hanya karena tidak sepaham, tidak sepandangan, seseorang bisa dengan sangat mudahnya dituding sekuler, liberal, komunis, fasis, bahkan Yahudi, kafir dan pengkhianat nurani.

Yang terakhir ini telah pula dialamatkan pada Iwan Fals. Hanya karena dia cenderung mendukung Jokowi dan memilih untuk tidak ikut-ikutan mengeroyok Ahok dan kemudian berpendapat dan bersikap kontradiktif mengenai aksi-aksi yang dilakukan sebagai reaksi atas kasusnya.

Iwan Fals disebut sudah menggadaikan nurani. Dia dinistakan dengan tudingan telah menjual jiwa dan kepalanya dan jiwa serta kepala istri dan anak-anaknya, tak terkecuali Galang Rambu Anarki yang sudah lama meninggal dunia. Dan meme-meme yang memampangkan wajahnya berikut kalimat yang dicaplok dari lagunya Pesawat Tempurku, "penguasa berilah hambamu uang", menjadi olok-olok yang riuh di media sosial.

Baca: Iwan Fals: Janji Jokowi Semoga Bukan Janji Kompeni

Para pencecar nista datang dari berbagai kalangan. Politisi, artis, pengusaha, guru, dosen, pegawai negeri, wartawan, penceramah, motivator, penulis, seniman, aktivis, baik yang asli maupun yang gadungan, sampai para pemuda menye-menye yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk keluyuran dan duduk-duduk di kafe dan sama sekali belum mendapat gambaran kelak akan jadi apa.

Pemuda-pemuda yang ketika Iwan Fals lantang meneriakkan protes dan berulangkali masuk penjara di saat orang-orang bahkan tidak berani untuk sekadar mengeluarkan suara bantahan dan menyatakan ketidaksetujuan, barangkali masih kencing di celana.

Coba sebutkan sembarang persoalan di Indonesia. Persoalan apa saja. Iwan Fals pasti punya lagunya. Tentang pendidikan, misalnya, ada Guru Oemar Bakri, Sore Tugu Pancoran, Sarjana Muda. Tentang tenaga kerja sebutlah Tarmijah dan Problemnya, Kuli Jalanan, Robot Bernyawa, atau PHK. Tentang pelayanan publik bisa dikedepankan antara lain Ambulance Zigzag, Kisah Sepeda Motorku, Kereta Tiba Pukul Berapa.

Baca: Ini Jawaban Iwan Fals Ketika Digoda Maju Jadi Capres 2019

Tentang kaum urbanis, kota, dan penggusuran terdapat Condet, Bunga Trotoar, Kontrasmu Bisu, Ujung Aspal Pondok Gede, Siang Seberang Istana, Mimpi yang Terbeli. Tentang perusakan alam ada Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, Balada Orang Pedalaman, Panggilan dari Gunung, Tak Lagi Biru Lautku. Tentang pelacuran, hmm..., ada Gali Gongli, Azan Subuh Masih di Telinga, Doa Pengobral Dosa, dan -- sudah barang tentu yang paling fenomenal sekaligus paling kontroversial-- Lonteku.

Tahun 1981 Iwan Fals menulis Guru Oemar Bakri dan lagu itu masih terus dinyanyikan sampai sekarang, meskipun nasib guru-guru sudah tidak lagi sama. Jangan boleh ia nanti jadi profesor atau guru/itu celaka, uangnya tak ada, tulis WS Rendra dalam puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Kecenderungan yang juga tidak lagi relevan. Sebagian besar penyandang gelar profesor sekarang justru kaya raya. Sejumlah guru pun tak kalah kayanya.

Lagu-lagu lain juga demikian. Relevan atau tak lagi relevan, lagu-lagu Iwan Fals tak pernah mati lantaran tiap kali persoalan berulang lagu-lagu itu akan kembali diperdengarkan. Tak terkecuali lagu tentang politik. Surat untuk Wakil Rakyat diputar di televisi untuk mengiringi tayangan perihal kinerja anggota parlemen yang jeblok dan acak-kadut. Bento, Bongkar, Badut, adalah lagu-lagu ilustrasi yang sangat laris.

Tapi Iwan Fals juga menulis sejumlah lagu yang tidak terlalu populer namun justru sangat kuat dari sisi pesan seperti Demokrasi Nasi, Pola Hidup Sederhana, Paman Doblang, Coretan Dinding, Asyik Gak Asyik, dan Manusia 1/2 Dewa. Lagu-lagu yang memiliki gema dan kekuatan dahsyat untuk merasuk. Seperti lagu-lagu Bob Dylan.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved