Ngopi Sore

Telolet Uang Baru, Telolet Teroris

Bukan cuma kebahagiaan. Jika Anda ingin mencari keruwetan, datanglah juga ke Indonesia.Di sini segala keruwetan bisa Anda temukan dengan gampang.

Telolet Uang Baru, Telolet Teroris
KOMPAS.COM/ SYAHRUL MUNIR
TELOLET - Anak-anak di Ungaran, Kabupaten Semarang tengah menunggu bus malam yang lewat di Jl Diponegoro Ungaran, Kabupaten Semarang, beberapa waktu lalu. Mereka menantikan bus yang membunyikan klakson telolet untuk direkam dan diunggah ke media sosial. 

JIKA Anda mencari indikator kebahagiaan, datanglah ke Indonesia. Anda akan menemukannya dengan mudah sekali. Di Indonesia, Anda tak perlu pusing-pusing menerjemahkan kebahagiaan seperti Gabriel Garcia Marquez melakukan pencarian selama bertahun-tahun sebelum mengerucutkannya ke satu rumusan: No medicine cures what happiness cannot.

Di Indonesia, Anda cukup membuka Path dan Instagram dan mencari foto-foto yang mengandung unsur "indahnya kebersamaan", dan di situlah Anda bisa menemukan kebahagiaan. Bahwa keindahan dan kebahagiaan yang terjelmakan daripadanya ini sahih atau ngibul belaka, itu urusan nomor dua.

Begitulah di Indonesia apapun memang bisa jadi sumber kebahagiaan. Dari mulai sepakbola, dukun cilik, rekaman adegan percintaan anggota DPR dan penyanyi dangdut, tukang jamu cantik, sampai klakson bus.

Yang disebut terakhir baru saja melesat sebagai kebahagiaan. Dalam artian kebahagiaan yang lebih bersifat global. Sebab sesungguhnya, kebahagiaan dari klakson mobil ini sudah menyeruak di Jepara, Kudus, dan kota-kota lain di sekitarnya hingga Semarang, sejak beberapa waktu lalu.

Bahkan jika ditarik lebih jauh, fenomena klakson bernada khusus ini telah dimulai sejak 1980an sampai 1990an, dipakai oleh pengemudi bus-bus lintas antar provinsi di Sumatera dan Pantai Utara Jawa. Di Sumatera Utara, klakson khusus yang dibanderol antara Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta, ini biasa dipakai oleh bus-bus dari Medan ke Brastagi.

Om, telolet, om..., teriakan anak-anak (hingga remaja) yang berdiri sembari memegang poster bertuliskan kalimat yang sama, melesat jadi fenomena dan lebih jauh juga tumbuh sebagai viral di media sosial. Banyak yang berkomentar, dengan nada riang, menyikapi keisengan anak-anak itu. Mereka seolah bisa merasakan keasyikan saat menunggu bus melintas, merekam suara klakson lalu mengunggahnya di media sosial.

Dalam waktu singkat, telolet, yang merupakan tona dari suara klakson, mendunia, dan memancing sejumlah pesohor untuk berkomentar. Terutama sekali di Twitter. Dalam waktu singkat, telolet, jadi kosa kata baru pergaulan.

TELOLET
PARA "pemburu" telolet

Tapi bukan cuma kebahagiaan. Jika Anda ingin mencari keruwetan, datanglah juga ke Indonesia. Sebagaimana kebahagiaan, di sini segala sesuatu yang ruwet juga bisa Anda temukan dengan gampang sekali. Oleh sebagian orang Indonesia, apapun bisa dipandang, disikapi, dihubung-hubungkan dan ditempatkan sebagai keruwetan, yang pada titik tertentu, disadari atau tidak, merosot ke arah kebodohan.

Contohnya kebahagiaan dari klakson bus tadi. Kebahagiaan di satu sisi, ruwet di sisi yang lain. Bagaimana bisa? Di Indonesia, bisa! Tidak berselang lama setelah 'Om, telolet, om' naik pangkat dari kebahagiaan jelata ke posisi lebih elite lantaran riuh mengisi lini masa kaum selebritas, di media sosial mencuat keriuahan yang lain. Keriuhan yang berangkat dari opini bahwa 'Om, telolet, om' merupakan bentuk konspirasi untuk mendangkalkan akidah.

Beredar dalam bentuk meme, 'Om' disebut aksara suci untuk Sang Hyang Widhi, Tuhan pemeluk Hindu, sedangkan "Telolet" dianggap sebagai sinonim 'terompet', yakni benda yang oleh seseorang entah siapa yang pertama kali memampangkan meme ini di media sosial, dimaknai sebagai benda ciri khas ibadah orang Yahudi.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved