Ngopi Sore

Akankah di Tahun 2017 Kita Lebih Gaduh ?

Ada rupa-rupa kegaduhan. Yakni kegaduhan dadakan, kegaduhan terjadwal, dan kegaduhan terstruktur.

Akankah di Tahun 2017 Kita Lebih Gaduh ?
kompas.com
ILUSTRASI 

HUJAN yang turun di hari pertama tahun baru adalah pertanda rezeki. Konon begitu menurut kepercayaan orang-orang Tionghoa lama. Lalu bagaimana jika hujannya sangat deras sehingga mengakibatkan banjir? Apakah rezeki semakin melimpah ruah atau jadi berbalik sebagai tanda sial?

Saya tidak tahu. Mungkin benar mungkin juga tidak. Pastinya, di kota tempat saya tinggal, Medan, hari pertama tahun 2017 hujan turun agak deras meski tidak sampai menyebabkan banjir, dan di saat yang sama aliran listrik padam. Lumayan lama. Terhitung sejak pukul 03.00, listrik belum juga menyala di sebagian besar kawasan hingga pukul 15.00. Dan tidak cuma di Medan. Pemadaman terjadi di seantero Sumatera Utara, bahkan sampai ke Aceh.

Terlepas bahwa hujan dan listrik mati terjadi pada hari pertama di Kalender Masehi, bukan Kalender China, apakah ini merupakan gelagat baik atau sebaliknya? Sekali lagi saya tidak tahu. Saya bukan peramal. Bukan orang yang mendapatkan keistimewaan untuk melihat yang tak kasat. Akan tetapi, perkara ini bisa diperkirakan, tentu saja dengan menjadikan tahun sebelumnya sebagai tolok ukur.

Tahun 2016 adalah tahun yang serba gaduh. Seorang kawan di Facebook, AS Laksana, seorang penulis sastra dan kolumnis yang masyhur, menyebutnya sebagai tahun yang dungu. Membacanya saya tertawa, dan ingin sekali sepakat, meski akhirnya saya tetap memilih kata 'gaduh' saja. Setidaknya bagi saya kata ini kedengaran lebih menyejukkan. Lebih damai. Meskipun pada dasarnya, gaduh-gaduh yang tak tentu rupa arah dan kelewat histeris, hingga nyaris senewen, adalah bentuk kedunguan juga.

Kegaduhan-kegaduhan sejenis ini, terutama, bisa ditemui di media sosial. Ada rupa-rupa kegaduhan pula. Yakni kegaduhan dadakan, kegaduhan terjadwal, dan kegaduhan terstruktur.

Kegaduhan dadakan berhubungan dengan peristiwa yang menyita perhatian. Misalnya penangkapan koruptor dan teroris. Edisi teranyar penangkapan teroris mencuatkan kegaduhan luar biasa. Ada pro dan ada kontro. Pihak kontra yang menuding Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror bekerja tidak profesional dan cenderung menyudutkan Islam. Barang-barang bukti dari penangkapan itu, yaitu panci dan timbangan, kemudian dijadikan lelucon.

teroris1
OPERASI penangkapan terduga teroris di Pamulang, beberapa waktu lalu

Sudut pandang ini, ajaibnya, disangkutkan pula dengan peristiwa lain. Di Pulomas, Jakarta, seorang konglomerat dan sejumlah anggota keluarga dan kerabatnya, tewas mengenaskan dibantai kawanan perampok. Polisi mengungkap pelakunya para preman dan perampok kambuhan yang dikenal dengan sebutan Geng Medan. Seluruhnya bermarga Batak. Tak terduga kemudian muncul opini (berikut meme-meme) seperti ini: "jika pelakunya berjanggut dan bercelana cingkrang, tentu mereka akan disebut teroris".

Contoh berikut adalah penerbitan serial baru mata uang rupiah. Kegaduhan meliputi kadar kepahlawanan tokoh-tokoh yang wajahnya tertera pada lembaran uang, desain yang (disebut) mirip mata uang China, serta tudingan bahwa serial baru ini tidak dicetak di Peruri, melainkan satu perusahaan swasta yang dimiliki oleh pengusaha Tionghoa.

Lalu bagaimana kegaduhan terjadwal? Ini kegaduhan yang berkaitpaut dengan momentum tertentu. Momentum yang pasti berulang setiap tahun. Saya sebutkan tiga di antaranya, yang memang selalu sukses meledakkan kegaduhan hingga seantero negeri: (1) puasa di bulan Ramadan; (2) Gestapu dan Gestok; dan (3) jelang Natal dan Tahun Baru.

Momentum pertama, kita tahu, silang sengkarut gaduhnya adalah perihal boleh atau tidaknya membuka kedai atau warung nasi di siang hari Ramadan. Dari titik ini, kegaduhan beringsut ke pembanding-bandingan sikap antar umat beragama dalam perkara hormat-menghormati.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved