Ngopi Sore

Bersatu karena Kebencian yang Sama

Bagaimana logikanya seorang pembunuh bisa terkedudukan setara dengan pahlawan?

Bersatu karena Kebencian yang Sama
NEW YORK TIMES
SUASANA pemakaman Malik Mumtaz Hussain Qadri 

DI New York Times, 11 Maret 2016, Aatish Taseer menulis esai berjudul My Father's Killer's Funeral. Aatish Taseer adalah putera Salman Taseer, Gubenur Punjab, satu provinsi di Pakistan. Salman Teeser menjabat gubernur sejak 2008 sampai dia mati dibunuh pada 4 Januari 2011 oleh Malik Mumtaz Hussain Qadri, pengawalnya sendiri.

Malik menghujani Salman Teeser dengan 27 butir peluru AK-47. Menembaknya dari jarak dekat saat gubernur keluar dari kantornya untuk makan siang di Kohsar Market. Dalam persidangan, terungkap, Malik menganggap gubernur sebagai pendosa karena mengajukan petisi pengampunan dan pembebasan terhadap Aasiya Noreen alias Asia Bibi, seorang buruh pembuat batu bata, pemeluk Kristen, yang dituding melakukan penistaan agama Islam.

Proses hukum Malik berliku sebelum pengadilan memutuskan vonis mati. Sebelas hari sebelum esai Aatish Taseer ditayangkan New York Times dia dieksekusi, digantung, dan begitulah, kemudian, jutaan orang menghadiri pemakamannya di Rawalpindi.

Dalam sejarah Pakistan, bahkan sejarah dunia, tidak ada pembunuh yang pemakamannya dihadiri pelayat sedemikian banyak. Jumlah pelayat di pemakaman Malik Mumtaz Hussain Qadri hanya bisa dikalahkan oleh pelayat pemakaman dua pahlawan Pakistan, Benazir Bhutto dan Muhammad Ali Jinah.

pemakaman mumtaz
SUASANA pemakaman Malik Mumtaz Hussain Qadri

Bagaimana logikanya seorang pembunuh bisa berkedudukan setara dengan pahlawan? Atau jangan-jangan Malik memang benar-benar dianggap pahlawan?

Kenyataannya demikian. Pemakamannya bahkan sekaligus dijadikan penabalan Malik Mumtaz Hussain Qadri sebagai Hero of The Muslim World, Pahlawan Islam.

"Dan saya melihat di televisi bagaimana mereka menaburkan bunga-bunga, meneriakkan nama Allah di pemakaman orang itu. Orang yang telah membunuh lelaki yang saya cintai. Ayah saya. Suami ibu saya," tulis Aatish Taseer.

pemakaman mumtaz2
PELAYAT melemparkan bunga saat iring-iringan mobil yang membawa jenazah Malik Mumtaz Hussain Qadri melintas

Namun Astish Taseer tidak bersedih. Sebaliknya hal ini dipandangnya sebagai ironi. Dia merasa kasihan pada mereka yang datang ke Riwalpindi dan bersatu mempahlawankan Malik Mumtaz Hussain Qadri. Sebab berbeda dibanding Benazir Bhuto dan Muhammad Ali Jinah, kepahlawanan Malik dipandangnya tidak berangkat dari kecintaan. Sebaliknya karena kebencian. Mereka sama-sama membenci Salman Taseer dan Asia Bibi. Lebih khusus lagi, membenci Kristen, yang di Pakistan, tentu saja, merupakan minoritas.

Persoalan besar ini berawal dari perkara yang sepele belaka. Asia Bibi, usai bekerja membuat batu bata, minum dari gelas yang juga dipakai oleh pekerja lain yang muslim. Cekcok terjadi dan dalam waktu singkat, dari Sheikhupura, satu kota kecil di Punjab, kabarnya melesat-lesat sampai ke tiap penjuru Pakistan. Asia Bibi disebut menghina Rasulullah Muhammad SAW dan dengan demikian menistakan Islam.

Salman Taseer bukan Kristen. Namun pembelaannya terhadap Asia Bibi, setidaknya menurut pandangan Malik Mumtaz Qadri, membuatnya digolongkan sebagai musuh Islam. Atas sebab serupa, dua bulan setelah kematian Salman Taseer, Menteri Urusan Minoritas Pakistan, Shahbaz Bhatti, juga ditembak mati.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved