Baca Liputan Eksklusif Tribun Medan

Malang Nian, Perawat Terjerat Pungutan Liar Rp 53 Juta

"Sewaktu saya mau masuk kerja di RSUD Pardagangan dimintai Rp 35 juta. Pegawai yang lain juga dimintai, cuma bervariasi jumlahnya,"

Malang Nian, Perawat Terjerat Pungutan Liar Rp 53 Juta
Ilustrasi 

* Bayar Saat Masuk Kerja dan Perpanjang SK

TRIBUN-MEDAN.com - SIANTAR - Perawat dan bidan, yang berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di Rumah Sakit Umum Daerah Pardangan, Simalungun, mengeluhkan pungutan liar (pungli) yang disebut-sebut diminta manajemen rumah sakit.

Kepada Tribun-Medan/ Tribun-Medan.com beberapa perawat dan bidan PTT menceritakan, mereka dimintai Rp 35 juta per orang untuk menjadi PTT, dan Rp 18 juta untuk perpanjangan SK PTT. Total pungli yang harus dibayar perawat atau bidan PTT setahun Rp 53 juta (Rp 35 juta + Rp 18 juta).

"Sewaktu saya mau masuk kerja di RSUD Pardagangan dimintai Rp 35 juta. Pegawai yang lain juga dimintai, cuma bervariasi jumlahnya. Kemudian untuk perpanjangan SK, mereka minta lagi Rp 18 juta kepada setiap PTT," ujar GS, seorang PTT di RSUD Pardagangan, beberapa waktu yang lalu.

Ia menceritakan, saat ingin menjadi PTT, keluarganya bersusah payah mengumpulkan uang Rp 35 juta.

"Saat itu, orangtua saya susah sekali mencari uang itu. Ia mencari ke sana ke mari. Sampai minjam sama tauke-taukelah mamak supaya dapat uang itu. Tapi, itulah mamakku kalau sudah untuk anaknya selalu berusaha," ujarnya seraya menunjukkan kuitansi pembayaranya.

Ia mengaku tergiur jadi PTT, karena baru lulus dan kena bujuk rayu PNS berinisial RM, yang mengaku punya jaringan di manajemen RSUD Pardagangan dan Badan Kepegawaian Daerah Simalungun.

"Tahulah baru lulus kuliah aku. Belum tahu cemana caranya supaya bisa bekerja di rumah sakit. Ditawari pekerjaan dengan harus bayar Rp 35 juta, orangtua aku langsung mau saja," katanya.

Ia menambahkan, tujuh bulan terakhir hanya dapat gaji satu bulan, yaitu Rp 1 juta. "Saya kan masuknya bulan enam, gajian sebulan. Terus selanjutnya, nggak gajian lagi hingga hari ini," ujarnya.

Dan, setelah ada permintaan biaya untuk perpanjang SK PTT, ia merasa dipermainkan oknum manajemen RSUD Pardagangan. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bekerja di RSUD Pardagangan.

"Setelah diminta yang Rp 18 juta ini, baru sadar kami kalau kerja di RSUD ini nggak benar lagi. Kalau kerja nggak gajian, masih sabar kiannya kami. Saya pun nggak mau lanjut lagi, karena saya punya adik yang harus sekolah," katanya.

Halaman
123
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved